Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts

October 28, 2017

PANTAI SADRANAN: LATIHAN SNORKELING DI PANTAI BERKARANG


"Look deep into nature, and then you will understand everything better."
 - Albert Einstein


Hai!
Post terbaru kali ini, masih bercerita tetang deretan pantai di Gunungkidul Yogyakarta. Setalah sebelumnya kami berkesempatan eksplore pantai Andong, sekarang tak jauh dari  pantai Andong, kamu dapat sekalian berjalan menyusuri pantai ke arah Sadranan. Lokasinya sangat berdekatan. Maklumlah, saat ini banyak lokasi pantai baru di Gunungkidul yang telah dibuka untuk umum untuk menjadi lokasi wisata pilihan para wisatawan. 


Perjalanan dari pusat ke kota ke pantai Sadranan pada hari biasa, dan trafic reguler sebanrnya hanya 1 - 1.5 jam. Namun hari itu, akhir pekan, dan berdekatan hari libur sehingga trafic termasuk macet di daerah jalan Wonosari Yogyakarta. Akhirnya sempat mengalihkan rute, kami sampai di lokasi setelah perjalanan 3 jam. Kami sempat berhenti di beberapa toko dan tempat makan sebelum lanjut ke lokasi pantai, jadi tidak full 3 jam perjalanan tanpa henti.



Sebelum masuk ke area pantai Sadranan, kita akan  melewati pantai Baron terlebih dahulu. Kami memutuskan untuk rehat sejenak, sembari makan siang di pantai Baron. Pantai ini bisa dibilang cukup lama dibuka untuk umum, sehingga sudah tertata untuk lokasi makan / restonya (meskipun hanya resto makan biasa, bukan restoran besar seperti sepanjang Jimbaran Bali). Di lokasi ini, para wisatawan juga dapat membeli buah - buahan langsung dari pedang pasar yang ada di depan resto makanan. Saat kami berkunjung, pedagang ramai menjajakan dagangannya seperti pisang beraneka jenis, petai, buah - buahan hasil panen warga dan beberapa jenis sayur mayur.


Seafood for lunch

Setelah kenyang dengan masakan seafoodnya, akhirnya kami bertigabelas orang lanjur lagi perjalanan kami ke pantai Sadranan. Kurang dari 20 menit kami sudah sampai lokasi. Siang itu sungguh ramai wisatawan baik dari dalam ataupun luar kota. Bisa dibilang, saya sudah cukup lama tidak mengunjungi pantai Sadranan, yaaa hampir 7 tahun lalu. Kemarin lalu, cukup banyak perkembangan di pantai Sadranan khususnya dari fasilitasnya, seperti tersedia beberapa gazebo di tepi pantai, resto makanan, dan yang paling menarik adalah penyewaan alat snorkeling. Pantai Sadranan bisa dibilang pantai dangkal yang terdapat banyak karang. Saat air laut surut, karang akan menjadi lokasi yang asik bagi anak - anak mencari ikan yang terjebak atau biota laut lainnya.



Pantai yang luas terbentang dengan pasir putih indah memang jadi nilai plus sendiri, Bagi pengunjung yang datang ke lokasi bersama keluarga dan putra putrinya tentu akan jadi moment  yang menarik karena, keluarga bisa menggunakan Gazebo sembari mendampingi putra putrinya yang ingin bermain di pantai. Ombak pantai Sadranan tidak terlalu besar, karena bibir pantai cukup jauh dari tengah pantai asal ombak (mungkin karena sedang surut). Cukup membayar retribusi Rp. 20.000 per mobil, kita bisa ekplore beberapa pantai Sadranan. Tiket tambahan per orang juga disesuiaikan dengan holiday season yang berlangsung. Cukup terjangkau bukan? Untuk video dalam bahasa Indonesia cek via youtube chanelku ya. 




Tidak pernah bosan rasanya berkunjung ke berbagai tempat wisata baru yang ada di Yogyakarta. Saat ini banyak tempat Hietz yang sudah semakin dikenalkan kepada wisatawan. Apalagi media sosial sungguh membantu meningkatkan publikasi terkait lokasi - lokasi wisata terkait mulai dari pantai, wisata alam, cafe - cafe unik, dan lain sebagainya. Cafe unik? Mmmm... bisa jadi ide bagus nih untuk post selanjutnya. 



See you in another side ya.
We're ready for Philipines a couples day after this post.
Aku bakal share beberapa wishlist sebelum berangkat ke Manila minggu depan.
Cant wait! Thank you for reading this post.

October 21, 2014

#WonderfulYogyakarta: PUNCAK SUROLOYO - KULONPROGO



Yes... Yes... Jogja from Here



Yes! I’m here.
Setelah berjalan lebih dari 280 anak tangga, sampailah di Puncak Suroloyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Lumayan perjuangan ya sampai sini, karena  jarak pusat kota Yogyakarta ke lokasi hampir dua jam, dan dengan jalan yang sangat berkelok-kelok saat masuk ke area perbukitannya.  Semakin menanjak, semakin curam, dan semakin seru.  Kanan kiri hutan dan jurang, makanya kudu bener-bener kuat deh kalau mau ke puncak yang satu ini.  

menemukan bukit kecil ini saat rute perjalanan

Selama perjalanan pun saya sudah bisa melihat pemandangan alam yang luar biasa, jembatan besar, sungai yang lebar, tanaman dan pepohonan hijau, tebing, dan pemandangan kota Kulonprogo dari atas bukit. Area wisata Puncak Suroloyo, hari itu tidak terlalu ramai, mungkin karena lokasi juga jauh dari kota jadi tidak selalu ramai setiap hari. Setelah memarkir kendaraan, mulai deh menaiki anak tangga. Di sekitar juga ada warung-warung kecil yang menyediakan makanan dan minuman, meski tidak terlalu  banyak, bisa dihitung sekitar 3-5 warung makan saja. 
Memasuki area parkir

Pemandangan hijau
Kanan kiri saya penuh dengan pemandangan hijau, indah, tenang, dan yang pasti, it was my first! Sampai di puncak, view kota nampak makin indah, seperti lukisan, just can say, amazing!

Pemandangan saat menaiki tangga

Total 286 anak tangga menuju puncak

Arca

Puncak Suroloyo

Yes, someday, pengen datang ke beberapa puncak lainnya yang nggak kalah indah, mungkin Bandung, Bogor, Bukit Tinggi, atau dimanapun. Love nature! 

Puncak Suroloyo


You are a child of the universe, no less than the trees and the stars; you have a right to be here.
- Desiderata                                                                  

October 7, 2014

#WonderfulYogyakarta : Dari Kraton Jogja Menuju ke Pulo Cemeti

Yuk, Kembali Bernostalgia di Jaman Lawas!



Siapa bilang wisata budaya itu menjemukan? 

Biasanya kalau kita disuruh datang ke lokasi wisata untuk refreshing,  secara general ada dua pilihan,  ke gunung atau ke pantai.  Padahal,  di antara gunung dan pantai itu terbentang banyak pilihan lain yang mungkin kita kesampingkan.  Kadang siapa sangka lokasi wisata agama,  tempat bersejarah,  makam pahlawan,  bahkan tempat-tempat budaya salah satunya museum,  adalah tempat tujuan wisata yang sarat histori masa lampau.  

Wajar sih kalau lokasi tersebut di pandang sebelah mata bagi beberapa orang,  dan termasuk saya,  pada awalnya.  Tapi,  hari ini saya dan teman saya Riana tanpa banyak basa-basi dan rencana,  datanglah ke beberapa lokasi wisata budaya dan sejarah.  

Kita mulai dari Kraton Yogyakarta.

Kami berangkat Sabtu,  4 Oktober lalu,  dan sayang sekali,  area Kraton tidak dibuka untuk umum dalam rangka hari Idul Adha yang jatuh pada hari Minggunya.  Oke,  tapi kami tidak patah arang.  Akhirnya kami melihat-lihat area luar Kraton dan melanjutkan perjalanan ke wilayah pemukiman warga yang ada di samping Kraton,  yakno Jalan Kasatriyan,  Kraton Yogyakarta.  

Pohon rindang dan hijau di sekitar Kraton Yogyakarta


Pemandangan area luar Kraton Yogyakarta

Salah satu rumah hijau yang ada di kompleks Kasatriyan

Area jalan Kasatriyan, Kraton Yogyakarta

Kompleks ini sungguh asri,  tenang,  dan beberapa rumah masih desain lawas jaman lampau,  jadi sekilas kami bisa ingat Yogyakarta di masa lampau.  

Hari itu banyak juga beberapa wisatawan asing yang melihat lokasi luar Kraton,  dengan melihat pemandangan dan arsitektur kraton dari luarnya saja,  sepertinya sudah cukup jadi obat kecewa mereka karena ditutupnya Kraton pada hari itu. Saya sempat mengambil beberapa foto di sana,  termasuk kesempatan baik berfoto dengan Bapak Mulyono yaitu abdi dalem Kraton.  
Bersama abdi dalem Kraton, Bapak Mulyono

Pemandangan di luar kraton, bangku taman dengan pepohonan yang rindang.

Tujuan selanjutnya, Pulo Cemeti.

Setelah kurang lebih satu jam saja di wilayah Kraton,  kami kemudian melanjutkan perjalanan ke pasar Ngasem,  dan area pulo Cemeti. Jarak dari Kraton ke pasar Ngasen hanya 5 menit ditempuh dengan kendaraan pribadi.  Sampai di lokasi,  Riana yang bisa dikata jarang jalan-jalan wisata seakan takjub dengan tampilan pulo Cemeti yang dari kejauhan sudah terlihat tembok khas peninggalan masa lampau itu.  Masuk ke area pasar Ngasem dan pulo Cemeti tidak dipungut biaya tiket masuk.  Jadi tenang saja,  mungkin hanya dikenakan biaya parkir kendaraan saja.  
Inilah tampilan tembok Pulo Cemeti dari pintu masuk Pasar Ngasem

Bangunan lawas, kaya nilai budaya

Pulo Cemeti Yogyakarta
 Setelah puas melihat indahnya peninggalan budaya ini,  kami menghabiskan waktu sore di sebuah cafe sederhana di area pulo Cemeti.  Cafe Water Castle namanya,  dikelola dari rumah warga sekitar yang ditata sedemikian rupa,  denfan cantik dan ada beberapa barang seni di dalamnya sepertu lukisan,  topeng,  perlengkapan rumah dengan gaya lawas,  dan tentunya pemilik cafe yang sangat ramah. Tulisan tentang Water Castle cafe segera akan dipublish. :)

Itu sekilas tentang Kraton dan Pulo Cemeti. Tunggu kisah serba - serbi Yogyakarta dalam posting selanjutnya. Penasaran tentang benteng Vredeburg dan apa saja yang bisa kalian temukan di Mirota Batik Yogyakarta???  

Follow my trip on #WonderfulYogyakarta…..

October 6, 2014

#WonderfulYogyakarta : CERME CAVE

Cerme Cave. Dark one. Nice one. Awesome!



Ini mungkin dikarenakan saya selama ini jarang meluangkan waktu menikmati beberapa lokasi wisata yang ada di Yogyakarta. Biasanya, orang akan lebih memilih untuk liburan nke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Tapi tidak terpikir, sejauh mana mereka mengenal kota sendiri. Sekarang, saya belajar untuk mengenal kota sendiri, dari bneberapa lokasi wisata di Yogyakarta. Dan kali ini, saya akan ajak anda ke Gua Cerme.

Bagi  kebanyakan orang yang suka berpetualang ke lokasi wisata alam, wisata air, bebatuan dan sejenisnya, pasti sudah tidak asing dengan gua yang ada di wilayah Bantul. Tapi, nanti saat kita menyusuri gua, kita akan sampai di ujung terluar gua, yang mana sudah masuk daerah Gunungkidul, Yogyakarta. Oke, let’s check my trip....!!
Selamat datang di Gua Cerme

Jarang lokasi gua dari pusat kota Yogyakarta sekitar 1,5 jam, lama waktu sesuai dengan kondisi lalu lintas. Saat masuk ke perbukitan yang menuju arah gua, kami sangat terpukau dengan pemandangan indah yang ada di samping kanan dan kiri kami. Takjub! Hijau! Peaceful! Ada beberapa foto yang telah saya posting di Instagram, tapi di sini saya akan bercerita lebih detail lagi.  
Pemandangan dari sini indah sekali, bisa melihat pemandangan hijau di bawah sana.

Sampai di lokasi gua, kami harus membayar retribusi sebesar Rp. 4.000;/orang kemudian Rp. 50.000; untuk jasa pemandu. Fasilitas  yang dikenakan charge adalah senter dan helm, per orang dikenakan biaya sewa Rp. 10.000;/orang.

Pos retribusi.
Setelah semua perlengkapan siap, kami melewati anak tangga, kemudian sampailah di mulut gua. Pemandu membantu kami masuk ke dalam gua dimana awalnya memang harus snagt hati-hati karena jalan yang menurun dan licin. 

Pemandangan hijau di Gua Cerme


Kami melewati anak tangga sebelum sampai ke mulut Gua.



pintu masuk Gua Cerme
Kami akan menempuh jarak sekitar 1,2 kilometer di dalam gua. Dengan kondisi gua yang gelap, dan aliran air di dalam gua, sekitar 30 cm – 1.5m. Pemandangan gua sangat menarik dengan batu stalakmit dan stalaktit, di gua tersebut juga ada beberapa spot untuk bertapa. 

Indahnya stalakmit.
semacam ada laba-laba jenis khusus, waktu kami ada di dalam gua. :)

Perjalanan kami ditutup dengan makan siang sederhana di lokasi wisata tersebut. Menu makan yang simple, tapi sungguh nikmat rasanya setelah berlelah-lelah di dalam gua dengan medan perjalanan yang cukup sulit. 

Happy for that chance... Don't forget to follow my instagram for all photograph and expression. 

Warm hug for you readers.....



All pictures credit by: Dinata Ayu
Location : Cerme Cave, Bantul Yogyakarta 

June 24, 2014

Jogja Fashion Week 2014: Men's Wear



Men's Show
(karena kecantikan berbusana itu bukan hanya milik wanita)


Minggu malem kemarin, bersyukur bisa nyempetin datang ke pagelaran fashion terbesar, yang diikuti ratusan designer fashion baik itu pemula ataupun profesional: Jogja Fashion Week 2014 di Jogja Expo Centre (JEC). Start dari tanggal 18 Juni, sampai 22 Juni akhirnya baru sempet datang justru pas acara penutupan malam harinya. But, it's okey...

Malem itu, datang dengan long dress warna hitam, dengan gold materials di bagian dada, plus syal warna senada. Pengen tetep fashionable tapi jangan sampai lepas dengan kesan anggun. :p Dari mulai berangkat udah feeling acara bakal seru, ditambah lagi, dapat akses tempat yang pas dan enak banget buat motret.  Di tulisan kali ini enggak akan banyak materi, cuma gambar - gambar - gambar.... Tema kita: Men's Wear.... 

Untuk yang cowok-cowok, boleh cek beberapa karya desainer yang oke ini, mulai dari casual style, formal, sampai (extra)ordinary karena kecantikan berbusana itu bukan hanya milik wanita.



Koleksi Sutriandewi Badenoch
Koleksi Afif Syakur


Afif Syakur (tengah) dan rancangan pakaiannya

Koleksi gaun Kartika Liem



Koleksi gaun Kartika Liem

Untuk koleksi lebih lengkapnya, bisa dicek ditulisan selanjutnya ya. Misalpun ada yang ngeblur dan agak goyang, semoga bisa dimaklumi, soalnya serunya ada di wilayah media dan fotografer itu, "lawan"nya banyak, dan lebih dari 95% laki. Tapi, kita semua bersenang-senang di kesempatan itu, Wish you like too.........



Jogja fashion week 2014 - JEC
photo by DinataAyu



April 8, 2014

Buat yang Underestimate sama Nasi Merah. Read this!



Tangkal Radikal Bebas Pakai Tameng bernama: NASI MERAH

Kamis minggu kemaren, lepas dari pergi ke media printing, aku sama anak-anak marketing sepakat makan siang di "tempat yang masih dirahasiakan namanya". Katanya itu makanan sehat pokoknya. Biasanya sih kalau makanan sehat, feeling rasanya engga oke, terusan kalo engga ya, semacam sayuran. Finally, sampailah kami ke tempat itu, aduh alamatnya juga engga tau pasti, tapi buat kamu yang ada di Yogya, rute nya sih gampang, dari kampus UII jalan Kaliurang, lurus terus ke utara, pas pokokan itu ada gereja Katholik kan kiri jalan, nah masuk aja di belokan kiri itu, sekitar 1 KM, nanti tempetnya sebeah kiri jalan "Nasi Merah Khas Gunung Kidul". 

Kaaann.. bener kaann.... seumur-umur makan nasi merah aku ini cuma sebates icip aja. Keras, aneh, dan nggak biasa sih lebih tepatnya. Ini malah kepepetnya makan nasi merah, yang mana satu-satunya menu disana. Pesen - pesen - pesen - dan bakpia anget ini pun sampek duluan buat salah satu pilihan ngemil. Kebetulan kami makan siang pas itu, barengan sama sales marketing-nya Grand Zuri hotel yang juga, temen kami. :p

bakpia

bakpia

bakpia

Bakpia-nya ini sekitar 1500-an (moga nggak salah ngitung, abisnya di nota jadi satu semua urusan per-bakpiaan segaban orang). Seringnya di sini, bakpia disajikan anget-anget, dan itu enak. karena juga ukurannya rada gedean, bukan kecil kayak bakpia-bakpia umumnya itu. 

Oke, dan akhirnya, inilah pesanan makan siang kami semua. 

satu bakul nasi merah

lauk banyak pilihan

sambal bawang mantap

Ada nasi merah yang cukup buat bertujuh orang, ada pilihan lauk pauk kayak, ayam goreng, empal, tahu tempe, ati ampela, sesuai selera kamu sih, laennya ada sayur lodeh, dan tumis daun pepaya. Makanan datang, suddenly semuanya sibuk sendiri-sendiri.


serbu makanan

Sampai seporsi nasi merah, sayur, dan lauk ada di piring, masih rada underestimate sama rasanya. Tapi, waktu dimakan, ternyata olahan nasi merahnya engga keras, kayak di tempet nasi merah yang dulu pernah sekedar icip dari porsian temen. Ya, ini sih jauh better, lebih rasanya kayak nasi putih biasa cuman radak lembek gitu aja sih. 

Kata Ratri, nasi merah itu engga bikin gemuk, tapi ternyata engga cuma itu manfaatnya, menurut artikel yang aku baca, nasi merah itu banyak mengandung serat, dan kandungannya itu bisa mengontrol kadar gula darah, jadi bikin kita gampang kenyang juga. Selain itu, nasi merah juga mengandung antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, bisa menurunkan kadar kolesterol jahat plus-nya lagi ada Vitamin B6. 

Bicara soal tempat makan nasi merah, ini tempet sih kayaknya emang tenar gitu, soalnya waktu kita dateng, pas jam makan siang, banyak mobil-mobil parkir di pinggiran jalan, padahal, warung makannya bukan warung makan besar atau restoran, dilihat malah kayak warung biasa yang nggak gitu luas. Soal harga, per porsinya sih enggak bakal lebih dari 20 ribu, kalau dihitung per kepala, mungkin tergantung kamu pake lauk apa. Karena umumnya di sana, nasi merah disajikan sesuai kebutuhan per-kepala, ada sayur, dan lauk pun dijadikan satu. Bisa ambil sesuai kemauan, dan nanti dihitungnya belakangan. 

Itu cerita tentang nasi merah. Mau coba juga...silahkan... :)

dinta & selvi










Copyright © 2014 FILOSOFAST

Distributed By Blogger Templates | Designed By Darmowe dodatki na blogi