Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

November 1, 2017

PHILIPINES TRIP: TUJUAN WISATA FAVORIT DI FILIPINA

"We have stories to tell, stories that provide wisdom about the journey of life. What more have we to give one another than our 'truth' about our human adventure as honestly and as openly as we know how?" - Rabbi Saul Rubin






MABUHAY!
Just like a  tik tok tik tok before we ready for #PhilipinesTrip!
Akhirnya salah satu wishlist 2017 aku hampir terealisasi beberapa hari lagi, and before end of December. Fungsinya resolusi setiap tahunnya adalah mengukur sejauh mana kita bisa "menghadiahi" pencapaian yang sudah kita upayakan, usahakan, atau perlu effort yang besar selama bebarapa waktu. Tahun ini Filipina menjadi negara ketiga di Asia yang aku kunjungi.

KENAPA FILIPINA?
Banyak yang bilang Filipina tidak memiliki banyak lokasi wisata di ibu kotanya. Justru Thats not the point! Saya memilih satu pulau di Filipina yakni Palawan (dan fokus ke satu bagian yang lebih kecil lagi disebut El Nido). Katanya sih, El Nido ini adalah Heaven in Earth nya Asia. Mungkin kalau di Indonesia kita punya Raja Ampat, Filipina unya bebeapa gugusan pulau dan pantai - pantai indah dari yang sudah terkenal dikalangan wisatawan internasional sampai yang memang "surga tersembunyi" dengan medan tempuh ke lokasi yang tidak mudah. Beberapa tempat wisata ternama di sana diantaranya Boracay, Cebu, dan ada juga Vigan. Boracay dan Cebu kuat dengan wisata pantai, Vigan menjadi satu tujuan wisata kota tua, adapula Tagaytay yang menjadi datu dataran tinggi di sana dengan berbagai wahana bermain keluarga (mungkin kayak di puncak atau kalau di Yogyakarta kayak di Kaliuran).

FILIPINA: KEMANA SAJA?
Saya terbiasa membuat itinerary sebelum perjalanan. Itinerary Filipina sudah finished dibuat sejak 2 bulan lalu (saking semangatnya). Ada beberapa lokasi wisata yang akan menjadi tujuan utama, ditambah dengan tujuan - tujuan lain yang akan disesuaikan dengan waktu.

1. EL NIDO, PALAWAN
Butuh penerbangan sekitar 1.5 jam dari Manila ke Palawan. Selesai sampai disitu? Tidak. Karena kamu butuh 5 - 6 jam lanjut perjalanan dengan travel atau bisa lebih (8jam) jika menggunakan bus. El Nido ada diujung pulau Palawan, dengan berbagai tujuan wisata pantai eksotis yang masih asli. Meskipun banyak wisatawan datang ke lokasi ini, namun untung eksplore berbagai tujuan wisata atau laguna, dan lain sebagainya perlu dijangkau dengan perahu lagi dai pusat kota El Nido ke beberapa tujuan utama. Beberapa lokasi yang akan saya kunjungi diantaranya:
  1. Small Lagoon
  2. Big Lagoon
  3. Secret Lagoon
  4. Simizu Island
  5. 7 Commandos Beach or Entulala Island (depending on company)
  6. Hidden Beach
  7. Matinloc Shrine
  8. Tapuitan Island
  9. Secret Beach
  10. Helicopter Island
  11. Puerto Princesa Baywalk, etc
2. MANILA
Ada apa saja di Manila? Selain wisata kuliner, ada beberapa lokasi wisata sejarah dan budaya yang sudah jadi wishlist kunjungan 2017 (((kunjungan))). Hehehe....  Manila punya sejarah kuat mengingat negara ini dulunya adalah negara hasil jajahan Amerika tapi juga sempat disambangi oleh Spanyol. Hal ini yang membuat beberapa gedung peninggalan masa lampau masih kuat dengan arsitektur Eropa dan percampuran. Beberapa lokasi yang akan saya kunjungi di Manila di antaranya:
  1. Manila Ocean park
  2. Manila Zoological & Botanical garden
  3. Star city philipines
  4. Intramuros
  5. Fort Santiago
  6. Minor basilica Of St. Lorenzo Ruiz
  7. Casa Manila
  8. Museum Bahay Tsinoy
  9. National Museum of The Philipines
  10. Rizal Park
  11. SM Mall Asia
Sebenarnya, ada lokasi lain seperti Vigan, yang tidak kalah menarik dari Intramuros di Manila. Manila - Vigan ditempuh dengan waktu sekitar 5-6 jam dengan jalur darat dan trafic yang mendukung. Sebenarnya bisa juga menggunakan penerbangan langsung hanya sekitar 1.5 jam maksimal namun penerbangan ke Vigan bisa dibilang harganya di atas rata - rata (bahkan jujur harganya mendekati dengan harga PP Indonesia - Manila ditambah tiket berangkat Manila Puerto Princesa). Jika kamu berencana membeli tiket ke Vigan dengan pesawat mungkin better kalian cek harga dari jauh - jauh hari siapa tau lebih murah.


Cant wait to share you more and more!
Tapi Its time for packing, right!
See you next time, readers. 





September 30, 2017

AYUTTHAYA PART 3: WAT PHRA SRI SANPHET

"Life is wonderful beautiful journey. Every episode of my life is like a dream, and I am at peace and happy with what life has given me."
- Laura Harring



Aloha!
September bulan baik, katanya.
Bulan September juga seringkali jadi bulan pilihan di beberapa lagu, contoh; September Ceria, September songs-nya JP Cooper, dan lain sebagainya. September ini juga jadi bulan baikku, karena aku lebih produktif menulis dibandingkan bulan sebelumnya. ((Hahaha)). Sembari mendengarkan beberapa lagu favorit di list Spotify, kali ini aku akan menulis tentang kelanjutan perjalanan aku di Ayutthaya, Thailand beberapa waktu lalu.

Dok. Pribadi Instagram @dinataayu

Di bagian ketiga kali ini, Wat Phra Sri Sanphet menjadi satu lokasi yang akan aku bahas mulai dari perjalanan ke sana, hal - hal menarik di dalamnya, biaya masuk dan lain sebagainya. Satu hal yang perlu kalian tahu, pada blog spot sebelumnya, aku sempat bercerita bahwa cuaca panas Thailand dan dehidrasi sempat menjadi kendala karena aku sempat kena serangan migrain dan mual - mual. Hal ini mungkin kurang sarapan pagi cukup, padahal harus full beraktifitas di luar ruang, di tengah hari yang panas, aktif berjalan, dan semacamnya. Wat Phra Sri Sanphet menjadi lokasi terakhir yang aku kunjungi di Ayutthaya bersama adik iparku, Ima.

Aloha! Dok. Pribadi

Menunju Wat Phra Sri Sanphet
Ayutthaya bukan kota yang besar, bisa dibilang tidak se-metropolis Bangkok. Jadi kamu bisa ekplore kota ini cukup satu hari, atau mungkin dua hari jika ingin mengunjungi seluruh lokasi wisata dan tempat makan ternama. Tranportasi yang digunakan menuju Ayutthaya (yang paling terjangkau) adalah kereta. Kamu bisa naik kereta menuju Stasiun Ayutthaya, dan dari Stasiun Ayutthaya ke Wat Phra Sri Sanphet kamu bisa menyewa Tuk - Tuk, Songthaew, motor, sepeda (kalau betah panas lo ya), atau bisa merasakan keseruan naik gajah, Kami menyewa Songthaew, selain lebih cepat dari lokasi satu ke lokasi lainnya, lumayan ada atapnya, jadi tidak langsung terkena paparan sinar matahari Thailand yang sooo hoot itu.


Tiket Wisata Wat Phra Sri Sanphet
Setelah kembali dengan badan yang bugar (karena habis makan siang, dn basuh - basuh muka after mual - mual karena dehidrasi), "akhirnya Susi kembali ceria!" Hahahaha..... Songthaew mengantar kami ke Wat Maha That, skitar pukul 13.00 waktu setempat, sehingga kami hanya punya waktu kurang dari dua jam sebelum jadwal kereta kembali ke Bangkok. Kendaraan tidak diperkenankan parkir terlalu dekat, mengingat ada ruang parkir sendiri.

Dok. Pribadi

Di lokasi ini, kamu bisa juga mencoba menaiki angkutan tradisional yakni gajah Thailand yang akan mengelilingi kompleks sekitaran Wat Phra Sri Sanphet (mengingat masih ada beberapa candi lainnya di sekitar kompleks wisata ini). Sebelum masuk lokasi, kami membeli tiket dahulu seharga 50 baht. Kali ini bermodalkan payung yang dipinjam dari driver Songthaew (yang belum sempat berkenalan), akhirnya kami enjoy beberapa sudut candi Wat Phra Sri Sanphet (lebih tepatnya, menikmati lokasi wisata sembari duduk di tempat teduh, kwkwkwkwk!!!).

Dok. Pribadi. Kompleks Wat Phra Sri Sanphet

Apa saja yang menarik di Wat Phra Sri Sanphet?
Seperti yang pernah aku infokan bahwa dominasi lokasi wisata di Ayutthaya adalah candi ataupun peningalan reruntuhan bersejarah jaman kerajaan Ayutthaya di masa lampau. Sama halnya dengan Wat Phra Sri Sanphet, kamu bisa menemukan reruntuhan candi, bedanya ada satu lokasi tempat ibadah sebelum masuk ke kompleks candi. Siang itu, sedang ada peribadatan umat Buddha, sehingga kami beberapa kali melihat biksu melintas di dalam kompleks candi dan di lokasi ibadah. Musik - musik khas doa - doa juga terdengar, membuat suasananya "Thailand banget".




Di sini, kamu masih bisa menemukan jajaran pohon untuk berteduh, dan juga candi - candi kecil yang berlokasi dekat pepohonan rindang, jadi lumayan untuk rehat dari suasana siang yang panas (lagi - lagi nyebut cuaca). Sebenarnya, tidak hanya di dalam kompleks candi, namun kamu sudah bisa menikmati pemandangan indah, di taman - taman jalur masuk ke candi. Pepohonan, bunga - bunga, bahna benteng masuk candi jika dari luar kelihatan epic jadi background foto.

"Bukan model Vogue" - Dok. Pribadi




Sekitar satu jam kami di lokasi Wat Phra Sri Sanphet, akhirnya kami bersiap pulang. PR adalah jalan dari kompleks utama ke lokasi parkir babang Songthaew. Cerita sedikir tentang babang driver Songthaew, dia termasuk driver yang cooperative, rajin ngajak obrol kami, karena dia cukup memahami bahasa Inggris, meski orang Thailand. Setelah itu, ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia dia juga memahami, jadi karena hal ini kami juga tidak sungkan meminta pendapat tentang lokasi wisata yang recommended bagi turis (daripada harus mendatangi total semua lokasi).


Siang itu, babang Songthaew memberi kami buah nanas potong (yang segar - kayaknya - karena ngga sempat kami foto). Aku bukan penyuka nanas, jadi tidak mencicipi langsung, Beberapa buah di Thailand yang paling iconic yakni nanas, mangga, kelapa muda, dan durian. Meskipun di Indonesia jenis buah ini juga ada, namun rasa dan tingkat kesegaran (kelapa muda, khususnya) masih un-explainable, bisa  beda. Penasaran bukan?

Let's travel to Thailand!


Tulisan ini telah dipublikasikan di Detik Travel, 8 Desember 2017:
https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3555764/kuil-dengan-ratusan-patung-buddha

September 26, 2017

AYUTTHAYA PART 2: WAT MAHA THAT

“Culture is the arts elevated to a set of beliefs." - Thomas Wolf



Bicara soal pengalaman pertama ke Thailand, first impression-ku adalah:
 "tzzuhuuuuu udarah!"

Indonesia adalah negara tropis, ya betul. Bahkan mayoritas negeara- negara Asia Tengara lainnya. Tapi tak dinyana - nyana (((nyanaaaaa))) bahwa Thailand terasa lebih hangat baik siang ataupun malam hari. Pertama kali keluar dari bandara Don Mueang, udara panas dari jalanan kota Bangkok langsung menderu - deru plus debu angkutan umum (pas banget ke muka). Sesaat setelah menunggu skitar 10 menit (akhirnya) bus ke daerah Chatucak. Kamu bisa naik bus jurusan A1 atau A2 keduanya melalui rute Chatucak. Setelah tengok kanan kiri dan mendapat kursi duduk, kami mulai terkagum lagi dengan keahlian kondektur saat meminta uang tiket. Kondektur menggunakan benda seperti bambu silinder panjang sekitar 30cm, berisi koin dan dia akan menggunakan tepian bambu (yang menyerupai sisi penggaris) untuk menyobek karcis yang sudah kita beli. Jelang malam di Bangkok, kami hanya jajan makanan pinggiran di dekat hotel yakni campuran bihun jagung, jamur dan sayuran dengan kuah Tom Yam. Asli enak! (((sumringah))). Setelah itu kami juga sempat mencoba sate seafood dengan saus asam manis (lagi lagi asam) duduk lesehan di depan Seven Eleven (karena beberapa penjaja makanan ini justru ada di depan Sevel). Sebelum kembali ke hotel, kami belanja keperluan perut lainnya dan bekal sarapan perjalanan besok paginya di  Seven Eleven dekat hotel.



Pagi harinya. 
Setelah full mengisi air minum di tumblr, kami bersiap perjalanan ke Ayutthaya. Butuh sekitar 1.5 jam untuk mencapai kota tersebut. Hari pertama ke Ayutthaya, kami masih perlu menyesuiakan transportasi efisien apa yang harus kami gunakan (bahkan untuk sampai ke Stasiun Bang Sue terlebih dahulu kami perlu banyak bertanya). Kami sempat ((((early lunch))) di warung - warung makan (semacam warteg) di luar pintu stasiun sebelum naik kereta ke Ayutthaya.


Seperti yang aku sempat tulis di post pertama tentang Ayutthaya, bahwa kecenderungan suhu udara di Thailand memang panas (mau bilang hangat, tapi kok nggak pas juga). Apalagi, sepanjang Ayutthaya belum banyak gedung tinggi, hanya aspal panjang terbentang, rumah kanan kirinya juga tidak terlalu padat, kemudian untuk di masing -masing lokasi memang mayoritas bangunan atau reruntuhan tua, Batu - batuan yang dulunya adalah gedung / kerajaan ini saat ini masih dijaga kelestariannya bahkan menjadi obyek wisata yang payut untuk dikunjungi, khususnya bagi Anda yang menyukai tentang sejarah dan tradisi.

Dok. Pribadi. Stasiun Ayutthaya

Apa saja yang menarik di Wat Maha That?
Ada beberapa hal yang menjadi poin menarik dari lokasi wisata ini diantaranya:
1. Buddha's Head in Tree Roots. Patung kepala Buddha ini menjadi unik karena dia ada di tengah lilitan akar pohon. Para wisatawan antri untuk berfoto di depan patung ini karena menjadi patung yang iconic di tempat wisata ini.


2. Reruntuhan bangunan di Wat Maha That masih cukup terawat hingga ini. Meski ada beberapa bagian yang rusak, karena bekas perang dengan kerajaan Burma di masa lampau namun justru reruntuhan peninggalan kerajaan Ayutthaya ini menjadi nilai plus bagi wisatawan.


Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That


Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That


3. Wat Maha That dekat beberapa komplek wisata lainnya. Sebagai informasi, kerajaan Ayutthaya dulunya adalah kerajaan kaya yang memiliki banyak harta benda, arca buddha dan patung - patung tak ternilai harganya, namun karena kalah perang dari kerajaan Burma, harta benda tersebut sirna dijarah.

Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That

Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That
Kami berkeliling Wat Maha That tepat mendekati siang hari, mengingat kami hanya menyewa Songthaew hingga sebelum pukul 15.00 waktu setempat maka kami berusaha memaksimalkan datang ke obyek wisata favorit saja. Dominasi lokasi wisata di Ayutthaya adalah candi, jadi mau ke berapa pun lokasi kebanyakan yang akan kamu lihat adalah deretan candi - candi. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di satu restaurant sederhana di dekat Wat Maha That sebelum lanjut ke obyek wisata selanjutnya.




Tiket Masuk Wat Maha That.
Biaya masuk Wat Maha That adalah 50 baht per orang. Bagi kamu yang berencana liburan ke Ayutthaya, bisa dibilang mayoritas tiketnya dipatok sama yakni sekitar 50 baht bahkan ada yang lebih murah sekitar 20 - 30 baht tergantung obyek wisata yang akan kamu kunjungi. Sewa Songthaew 800 baht (sekitar Rp. 336.000) ke 4 - 5 lokasi (disesuaikan waktu yang kamu punya. Jujur saat itu, kami hanya bisa mengunjungi 3 lokasi, dan 1 lokasi makan saja, karena waktu yang kami miliki terbatas. Kami hanya punya waktu kurang dari 4 jam, jadi kami memutuskan untuk mengujungi lokasi yang paling favorit turis.

Dok Pribadi. Area pembelian tiket

Tips liburan ke Wat Maha That:
  1. Rencana awal kami ingin menyewa motor, namun kami bisa menyarankan kamu (khususnya jika group holiday) untuk menyewa Tuk - Tuk (muat hingga 3 orang) atau Songthaew (muat maksimal 6- 7 orang).
  2. Selalu tawar harga sewa Tuk - Tuk / Songthaew. Harga mula yang ditawarkan kepada kami adalah 1.200 baht namun dengan pertimbangan A dan B akhirnya agen Songthaew (di dekat pintu keluar stasiun Ayutthaya) memberikan harga lebih murah (meski kita juga nggak tau ya, itu benar harga spesial atau sebenarnya harga umum).




Selamat jalan - jalan!


Tulisan ini telah dipublikasikan di Detik Travel, 8 Desember 2017:
https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3555764/kuil-dengan-ratusan-patung-buddha



April 8, 2016

HOTEL REVIEW: PRAETY HOMESTAY UBUD BALI

"NEVER JUDGE A BOOK FROM THE COVER"


Find a place inside where there's joy, and the joy will burn out the pain.  - Joseph Campbell



Selalu Ada kelebihan di balik kekurangan. Selain itu pasti ada hikmah di balik suatu kejadian. Kami melakukan perjalanan ke Bali akhir Maret lalu dengan banyak sekali cerita susah senangnya. Susah sebenarnya tidak terlalu susah, senangnya pun bukan yang 100% happy yang bergelora. Post pertama tentang perjalanan di Bali lalu akan seputar tentang review tempat tinggal yang kami gunakan untuk stay dua hari di area Ubud Bali. Kenapa kami memilih Ubud? Semua orang tahu Ubud adalah lokasi yang nyaman dan selalu menarik. Bukan berarti Bali selatan tidak semenarik Ubud, namun ada ciri khas masing-masing dari setiap daerah yang dikunjungi. Ubud identik dengan seni, budaya, keterampulan, ketenangan, hijau, dan sejuk. 


Sesuai itinerary, kami tinggal di salah satu homestay di Ubud bernama Praety homestay melalui aplikasi traveloka. Kami sampai di lokasi sudah menginjak pukul 21.00 WITA sehingga afak kesulitan mencari lokasi (rute yang direkomendasikan Google map ternyata adalah jalan satu arah) karena kami harus berputar jalan menuju lokasi yang dimaksud. Teman seperjalanan saya mudah negative thinking karena lokasi yang tidak terdeteksi kilat di map, tapi akhirnya sampailah di depan gang kecil di depan jalur searah yang kita tempuh tadi. Kalau kalian mengendarai mobil, maka kendaraan hanya bisa diparkir di depan gang, karena area gang ke homestay hanya muat diisi satu sepeda motor. At first time, memang kami agak worry dengan lokasinya. Tapi setelah terbiasa dan lebih jelas dengan lokasi di dalam Praety Homestay tersebut, kami mulai nyaman dengan kondisi yang ada. Konsep dari tempat ini adalah homestay, pemilik rumah utama ada di lokasi, menempati satu bangunan rumah tepat di samping pintu masuk. Pemilik homestay mba Praety, dan keluarga juga berlaku sebagai pihak yang membantu kita dalam banyak hal seperti informasi tentang bali, menyiapkan breakfast pagi, mereka juga memiliki persewaan motor dan mobil. Tentu ini menjadi salah satu kelebihan yang membuat kita tak perlu repot menjadi tempat sewa kendaraan untuk keliling Ubud Bali. 



A. How About The Room?
Untuk kamar, kami mendapatkan kamar cukup besar, dengan arsitektur khas Bali. Terdapat kelambu di setiap bed, dua lemari, fasilitas handuk, kipas angin, meja serba guna, dan colokan listrik, Terdapat dua kasur besar dan sementara itu kamar mandi lengkap dengan bathup dan hot water. Bagi kalian yang mengiginkan kamar ber AC, Praety homestay saat ini juga mengembangkan gedung dengan fasilitas kamar yang lebih lengkap. Karena untuk sekarang ini, kamar tidak dilengkapi dengan AC karena suasana di Ubud sendiri sudah sangat bersahabat. Selain itu taman dan kolam yang ada di homestay ini sudah menambah kenyamanan lokasi dan membuat betah untuk tinggal. Sayangnya kami tidak ada dokumentasi di dalam ruangan kamar. Satu foto di bawah ini adalah pintu ke kamar kami. Unik kan?
 

B. How About The Breakfast?
Dari traveloka, pemesanan kamar di Praety Homestay seharga Rp. 205.000 (harga fluktuatif sesuai tanggal liburan) termasuk dengan breakfast 2 orang. Ada banyak pilihan breakfast (sarapan cenderung ke American brakfast). Scramble egg with toast adalah favorit saya, selain itu tersedia juga jus buah, mix fuits, dan tea/coffee.  Semua main course adalah sarapan tanpa nasi, namun kamu akan tetap kenyang karena porsinya cukup banyak kalau untuk perut orang Indonesia. Pagi pertama kami di Ubud dan semua situasi yang ada di Praety Homestay membuat kami baru beraktifitas pukul 13.00 WITA.  

C. How About Other Facilities?
Praety Homestay tidak memiliki kolam renang jadi pastikan kalian akan membutuhan kolam renang tidak dalam bucketlist selama di Ubud. Oh iya, kamu tidak perlu repot saat keliling Ubud karena hanya dengan Rp. 50.000 kami bisa menyewa motor di mba Praety seharian (24 jam). Selain itu untuk kamu yang ingin menggunakan jasa mobil dari Ubud - Bandara (area Bali Selatan lainnya) bisa menggunakan jasa mobil dan driver mulai Rp. 300.000 di sini.  Kami sempat menggunakan jasa mobil ini saat harus menuju ke Bandara pada Minggu paginya.  Secara harus besar berikut keperluan akomodasi & transportasi selama di Ubud:

    • Biaya inap Praety Homestay 2 malam  : Rp. 410.000
    • Biaya sewa motor 1 hari                     : Rp.    50.000
    • Biaya antar ke Bandara (mobil+driver): Rp.  300.000
    • Bensin untuk motor                             : Rp.    20.000
    • TOTAL                                              : Rp,  735.000
Untuk pembayaran homestay sebenarnya sudah kami bereskan sebelum keberangkatan sehingga tanggungjawab keuangan lain hanya disesuaikan dengan kebutuhan kita saja. Lagipula, kalau kalian langsung ke lokasi, bisa jadi harga yang diberikan tidak sama dengan yang ditawarkan melalui online travel agent seperti Traveloka, Booking.com, dan sebagainya. 

Wisata mandiri itu enaknya kita dituntut untuk berpikir pintar, cermat dan hati-hati. Tapi bukan berarti kita tidak membuka peluang komunikasi dengan orang lain. See u on my next post.....
Find a place inside where there's joy, and the joy will burn out the pain. Joseph Campbell
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/j/josephcamp384345.html?src=t_place
Find a place inside where there's joy, and the joy will burn out the pain. Joseph Campbell
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/keywords/place.html
Find a place inside where there's joy, and the joy will burn out the pain. Joseph Campbell
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/keywords/place.html

October 12, 2015

ITINERARY: JOGJA - SEMARANG

LIBURAN: PENYEIMBANG 

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta


Awal Oktober lalu finally bisa melakukan perjalanan (lagi). Tidak perlu waktu cukup banyak untuk menimbang-nimbang keberangkatan kami, tapi setidaknya liburan sehari bisa jadi penyeimbang saat kami-kami ini para pekerja dan pemimpi menghabiskan hari menjadi diri kami sendiri.  Perjalanan dimulai Sabtu sore, sekitar pukul 16.00 WIB. Kami memilih menggunakan travel Cipaganti (berdasarkan review positif yang sebelumnya saya baca di google). Memilih perjalanan saat akhir pekan sebenarnya bisa merakhir membosankan karena terjebak macet di jalur perjalanan Jogja - Semarang hari itu, tapi  beruntung bagi kami karena traffic cukup bersahabat dan jarak tempuh perjalanan ke Semarang bisa dicapai kurang dari 3.5 jam. Tepat pukul 19.30 WIB kami sampai di lokasi pemberhentian travel Cipaganti. Selanjutnya, kami langsung ke hotel Elizabeth yang tidak terlalu jauh dari lokasi, sekitar 5-8 menit ditempuh dengan taksi.

Tugu Muda - Semarang

  
Hello my bestie...

Sedikit review tentang Hotel Elizabeth, terletak di Jl. Sultan Agung No.1, Gajahmungkur, Kota Semarang. Meski berada di titik lokasi yang cukup strategis tapi nilai plusnya saat masuk ke lokasi hotel, suasana cukup tenang. Ada beberapa jenis kamar dan harga, untuk yang paling terjangkau adalah kamar di area basement yang dipatok dengan harga Rp. 175.000 dan Rp. 200.000 untuk kamar mulai dari lanta dasar hingga lantai selanjutnya. Kekurangan kamar basement adalah susah sinyal. Bagi kalian yang aktif menggunakan layanan internet melalui smartphone pasti akan sangat kesulitan menemukan jaringan internet di sini. Finally, kami memutuskan untuk menggunakan kamar di lantai 1, dengan harga Rp. 200.000 (itupun kami harus cek ke beberapa kamar lainnya yang tersedia, cek air panas, cek suasana kamar, dan beberapa hal demi kenyamanan).




Paginya, perjalanan dimulai. Setelah makan pagi di hotel, kami bersiap ke tujuan pertama yakni kota lama Semarang. Bermodal peta, dan sedikit direction dari  petugas hotel, kami diarahkan untuk naik bus jurusan kota lama. Kurang dari 20 menit kami sudah sampai ke lokasi kota lama, dan kompleks - kompleks kuno di sekitarnya. Pada dasarnya, saya sangat menyukai bangunan lama, kota lama, vintage, kuno, peradaban lampau dimana itu semua seperti punya kesan klasik yang melekat erat.  Sempat mengambil beberapa hambar dan juga menemukan moment menarik di sekitar kompleks kota Semarang. 

Kota Lama - Semarang



Ada pasar ayam, dimana hari Minggu itu banyak para pedagang ayam jago khususnya edang menjajakan pejantan juaranya, atau sedikit menepi ke rentetan gedung lawas ada beberapa orang yang sedang melakukan sesi foto prewedding. Suddenly,  merasa ada di tahun 80an. 






Selanjutnya kami melanjutkan ke Lawang Sewu dan juga kuil Sam Po Kong. Ogh iya, akhirnya kami mengandalkan becak sebagai transportasi paling  nyaman. Selain bisa melihat pemandangan kota dan juga mengambil gambar-gambar sisi kota atau bahkan "take a selfie"  untuk biaya juga cukup terjangkau. Saya akan menyertakan perhitungan biayanya pada akhir artikel ini. 


Bicara tentang Lawang Sewu, sedikit berbeda dari ekspektasi saya. Awalnya, aku masih membayangkan Lawang sewu dengan bangunan tua, cat kecoklatan dan mulai terkelupas, tapi saat kami sudah sampai di lokasi, semua sisi bangunan di lawang Sewu telah mengalami re-painting. Meskipun ini merupakan langkah positif dari pemerintah daerah setempat, namun ada rasa sayang karena "kekunoan" dari bangunan jadi berkurang.





Di dalam kompleks lawang sewu kamu dapat melihat banyak peninggalan sejarah. Ada museum sejarah kereta di Indonesia, pahlawan, dan juga cerita-cerita sejarah di baliknya.  Cukup worth it dengan biaya masuk yang hanya dipatok dengan harga Rp. 10.000 per orang.



Tidak mau ketinggalan, Sam Po Kong juga punya nilai menarik tersendiri. Sesaat di lokasi ini, berasa sedang ada di luar negeri. Kompleks yang cukup luas, dengan bangunan dominasi warna merah tentunya juga punya banyak spot untuk mengambil gambar. Kami sampai di area sam Po Kong sekitar jam 1 siang, dimana matahari masih sangat terik pada waktu tersebut. Tapi karena kami tidak takut "gosong" peduli amat dengan cahaya sinar matahari. *laughing a lot. Oh iya, sebelum ke Sam Po Kong, tepat jam makan siang, karena perut sudah mulai keroncongan kami memutuskan untuk mencari warung makan di sekitar Sam Po Kong. namanya bu Kelik. Pelayanan ramah meski tidak terlalu banyak pilihan makanan, tapi itu cukup mengisi perut kami yang sudah mulai "berteriak-teriak".


Bisa dibilang perjalanan ini singkat, but it was fun! Sembari menunggu jadwal travel pukul 5 sore, sebelumnya kami mampir jajan dan mengeringkan keringat di Paragon Mall Semarang (tetep ke mall akhirnya).  Bagi beberapa orang berpikir bahwa, satu0satunya hari istirahat kenapa justru melakukan perjalanan?! Tapi bagi kami, mencintai diri sendiri tidak selamanya dengan tidur di akhir pekan, bukan? 




Kami mencintai pekerjaan kami saat ini, kehidupan kami, hari-hari kami, bahkan karena kesibukan-kesibukan ini, satu waktu melakukan perjalanan sungguh terasa menyenangkan.  Cek beberapa foto di Instagram dan juga youtube. Whoalaaa... See u in our next stories....

Itinerary Jogja - Semarang
Travel PP  2 org  : Rp. 340.000
Hotel 1 malam    : Rp. 200.000
Makan 3x            : Rp.  75.000
Tiket wisata         : Rp.  15.000
Transportasi         : Rp.  85.000
lain-lain               : Rp.  30.000
TOTAL                : Rp. 745.000/2 orang
TOTAL per org   : Rp.  372.500



All pictures by: @Dinataayu 

June 19, 2015

BALI = BEACH ISLAND



"I look my best when I'm totally free, on holiday, walking on the beach." Rosamund Pike

Bagaimana aku bisa mengabaikan kerya seni Tuhan seindah ini?
Meski tadinya pantai menjadi prioritas kesekian untuk semua tujuan wisata ku di Bali, tapi cerita-cerita di bawah ini membuatku mulai mengerti bahwa BLUE, is not too bad! :)


1. Pantai Kusamba
Okey, we get lost! 
Berniat ke daerah tepian Bali, menyusur beberapa pantai yang sudah masuk dalam wishlist, tapi teknis di lapangan tidak segampang yang kita pikirkan. Bertanya hampir 10 kali kepada warga lokal, anehnya tidak semua warga sekitar tau persis tujuan kami, mereka justru merekomendasikan tujuan lain yang "katanya" tidak jauh dari lokasi awal yang kami tuju. 

Rute hilang!






Tapi ya sudah, hilang membawa berkah. Paling tidak kami menemukan satu pantai yang belum terlalu ramai -  lebih tepatnya tidak ramai. Pantai Kusamba. Pantai yang berlokasi di klungkung Bali ini indah dengan pasir hitamnya, dan tentu perahu-perahu nelayan yang parkir rapi di tepian pantai. Tapi karena suasananya yang tidak terlalu ramai, jadi cukup menyenangkan untuk stay beberapa saat di pantai ini, mengambil beberapa gambar pemandangan. 



2. Pantai Jimbaran
Sudah pasti readers tidak asing dengan pantai yang satu ini. Pantai yang selain eksotis, kita bisa sembari menikmati makan malam di resto tepi pantai. Melihat sunset adalah hal yang paling tepat dilakukan di Jimbaran, dengan beberapa pilihan menu seafood yang ditawarkan masing-masing resto.


Bicara soal makanan, dinner di Jimbaran, saya memilih salah satu menu favorit "Kepiting Asam manis". Enak! Pokoknya enak. Biasanya sesi makan di Jimbaran tidak terlalu puas dengan rasa makanannya, tapi kali ini beruntunglah semua makanan yang saya pesan, enak dan kuat rasanya. 


Suasana semakin malam dan makin ramai, justru didominasi oleh wisatawan asing dari berbagai negara. kalau sudah berkumpul dalam satu lokasi plural seperti ini, turis lokal juga nampak seperti wisatawan asia. Kami pulang dari Jimbaran sekitar jam 20.30 malam dan melanjutkan ke rute selanjutnya, MALL! Radak aneh sih musti ke mall, tapi oke, tidak suatu yang buruk juga untuk jalan-jalan di mall kota lain, apalagi Beachwalk Bali, merupakan salah astu mall denan arsitektur dan konsep mall yang unik dan tentunya tenant yang banyak pilihan. Ini bisa jadi surga bagi readres yang suka belanja. 


3. Pantai Pandawa
Lokasi pantai Pandawa ada di daerah Pecatu, Bali. Jalan menuju pantai Pandawa kita akan dimanjakan dengan pemandangan alam dan tebing batu yang menawan. Memasuki kompleks pantai Pandawa, readers dapat melihat satu jalur tebing batu memanjang yang di sana bisa melihat patung 5 tokoh pandawa, hal ini yang membuat nama pantai inipun memiliki nama yang sama. 


First impression: OH MY GOD!
Pantai biru membentang jauh, sedikit ombak malu-malu di tepinya, mengikuti permainan dan langkah-langkah kecil setiap wisatawan yang mulai tergelitik untuk bermain air. Ini adalah pantai paling biru yang pernah aku lihat. Salah satu cara menikmati pantai selain dengan bermain air adalah dengan menyewa kursi pantai dan memesan es kelapa muda. 

Seperti biasa pedagang pantai menwarkan harga kursi pantai dan kelapa muda, dengan harga cukup melambung, tapi pastikan readers bisa menawar, mereka pada intinya bisa diajak kompromi. Saya menyewa 2 kursi pantai dengan satu es kelapamuda dengan harga Rp. 30.000 yang tadinya dengan total Rp. 70.000; 


4. Pantai Padang - Padang
Masih dalam satu deretan pantai di daerah Pecatu, Kuta Selatan, Badung Bali, terdapat satu pantai yang paling digemari wisatawan asing untuk berjemur. Ombak yang tidak besar dan lekukan bibir pantai yang memungkinkan banyak tempat teduh untuk berjemur tentunya menjadi faktor keapa pantai ini sangat favorit. 
 

Kalian harus menuruni jalan setapak dulu untuk mencapai ke bibir pantai. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 menit, karena kalian hanya bisa memarkir kendaraan di atas, sedangkan posisi pantai bisa dibilang menuruni tebing. Sulit bercerita bagaimana tentang keindahan pantai ini, hanya lihat foto-fotonya maka kalian akan tahu kenapa pantai ini menarik. 

 


5. Pantai Kuta
Ini adalah pantai paling famous di Bali. Mungkin itu adalah pernyataan paling tepat sebelum muncu pantai-pantai baru yang telah ditata sebagai salah satu tujuan wisata. Pantai Kuta berada di jalur stategis, area perbelanjaan, pusat hiburan Bali, dan turis destinasi. 



Di Kuta kalian bisa menemukan hair-art dan tentunya surfer. Di sekitar pantai Kuta, kalian bisa langsung melihat cafe -cafe berjajar, hotel kelas atas, Beachwalk mall, dan tempat tujuan hiburan dan lainnya. Istilah yang aku bisa bilang sih "ONE STOP", sekalinya berhenti kalian akan mendapatkan apa yang kalian butuhkan.
Salah satu cafe di sekitar pantai Kuta
 
Bali tetap menjadi tempat paling menawan yang aku kunjungi setelah Bandung. Banyak lagi cerita yang akan aku bagikan, setelah posting ini. Kalau aku ditanya, apa yang aku sukai dari Bali? Tidak ragu aku akan menjawab: "semuanya!"

And this is my travel stories about BALI = BEACH. What's your favourite one? 

All photos capture by me
Copyright © 2014 FILOSOFAST

Distributed By Blogger Templates | Designed By Darmowe dodatki na blogi