Showing posts with label thailand. Show all posts
Showing posts with label thailand. Show all posts

September 30, 2017

AYUTTHAYA PART 3: WAT PHRA SRI SANPHET

"Life is wonderful beautiful journey. Every episode of my life is like a dream, and I am at peace and happy with what life has given me."
- Laura Harring



Aloha!
September bulan baik, katanya.
Bulan September juga seringkali jadi bulan pilihan di beberapa lagu, contoh; September Ceria, September songs-nya JP Cooper, dan lain sebagainya. September ini juga jadi bulan baikku, karena aku lebih produktif menulis dibandingkan bulan sebelumnya. ((Hahaha)). Sembari mendengarkan beberapa lagu favorit di list Spotify, kali ini aku akan menulis tentang kelanjutan perjalanan aku di Ayutthaya, Thailand beberapa waktu lalu.

Dok. Pribadi Instagram @dinataayu

Di bagian ketiga kali ini, Wat Phra Sri Sanphet menjadi satu lokasi yang akan aku bahas mulai dari perjalanan ke sana, hal - hal menarik di dalamnya, biaya masuk dan lain sebagainya. Satu hal yang perlu kalian tahu, pada blog spot sebelumnya, aku sempat bercerita bahwa cuaca panas Thailand dan dehidrasi sempat menjadi kendala karena aku sempat kena serangan migrain dan mual - mual. Hal ini mungkin kurang sarapan pagi cukup, padahal harus full beraktifitas di luar ruang, di tengah hari yang panas, aktif berjalan, dan semacamnya. Wat Phra Sri Sanphet menjadi lokasi terakhir yang aku kunjungi di Ayutthaya bersama adik iparku, Ima.

Aloha! Dok. Pribadi

Menunju Wat Phra Sri Sanphet
Ayutthaya bukan kota yang besar, bisa dibilang tidak se-metropolis Bangkok. Jadi kamu bisa ekplore kota ini cukup satu hari, atau mungkin dua hari jika ingin mengunjungi seluruh lokasi wisata dan tempat makan ternama. Tranportasi yang digunakan menuju Ayutthaya (yang paling terjangkau) adalah kereta. Kamu bisa naik kereta menuju Stasiun Ayutthaya, dan dari Stasiun Ayutthaya ke Wat Phra Sri Sanphet kamu bisa menyewa Tuk - Tuk, Songthaew, motor, sepeda (kalau betah panas lo ya), atau bisa merasakan keseruan naik gajah, Kami menyewa Songthaew, selain lebih cepat dari lokasi satu ke lokasi lainnya, lumayan ada atapnya, jadi tidak langsung terkena paparan sinar matahari Thailand yang sooo hoot itu.


Tiket Wisata Wat Phra Sri Sanphet
Setelah kembali dengan badan yang bugar (karena habis makan siang, dn basuh - basuh muka after mual - mual karena dehidrasi), "akhirnya Susi kembali ceria!" Hahahaha..... Songthaew mengantar kami ke Wat Maha That, skitar pukul 13.00 waktu setempat, sehingga kami hanya punya waktu kurang dari dua jam sebelum jadwal kereta kembali ke Bangkok. Kendaraan tidak diperkenankan parkir terlalu dekat, mengingat ada ruang parkir sendiri.

Dok. Pribadi

Di lokasi ini, kamu bisa juga mencoba menaiki angkutan tradisional yakni gajah Thailand yang akan mengelilingi kompleks sekitaran Wat Phra Sri Sanphet (mengingat masih ada beberapa candi lainnya di sekitar kompleks wisata ini). Sebelum masuk lokasi, kami membeli tiket dahulu seharga 50 baht. Kali ini bermodalkan payung yang dipinjam dari driver Songthaew (yang belum sempat berkenalan), akhirnya kami enjoy beberapa sudut candi Wat Phra Sri Sanphet (lebih tepatnya, menikmati lokasi wisata sembari duduk di tempat teduh, kwkwkwkwk!!!).

Dok. Pribadi. Kompleks Wat Phra Sri Sanphet

Apa saja yang menarik di Wat Phra Sri Sanphet?
Seperti yang pernah aku infokan bahwa dominasi lokasi wisata di Ayutthaya adalah candi ataupun peningalan reruntuhan bersejarah jaman kerajaan Ayutthaya di masa lampau. Sama halnya dengan Wat Phra Sri Sanphet, kamu bisa menemukan reruntuhan candi, bedanya ada satu lokasi tempat ibadah sebelum masuk ke kompleks candi. Siang itu, sedang ada peribadatan umat Buddha, sehingga kami beberapa kali melihat biksu melintas di dalam kompleks candi dan di lokasi ibadah. Musik - musik khas doa - doa juga terdengar, membuat suasananya "Thailand banget".




Di sini, kamu masih bisa menemukan jajaran pohon untuk berteduh, dan juga candi - candi kecil yang berlokasi dekat pepohonan rindang, jadi lumayan untuk rehat dari suasana siang yang panas (lagi - lagi nyebut cuaca). Sebenarnya, tidak hanya di dalam kompleks candi, namun kamu sudah bisa menikmati pemandangan indah, di taman - taman jalur masuk ke candi. Pepohonan, bunga - bunga, bahna benteng masuk candi jika dari luar kelihatan epic jadi background foto.

"Bukan model Vogue" - Dok. Pribadi




Sekitar satu jam kami di lokasi Wat Phra Sri Sanphet, akhirnya kami bersiap pulang. PR adalah jalan dari kompleks utama ke lokasi parkir babang Songthaew. Cerita sedikir tentang babang driver Songthaew, dia termasuk driver yang cooperative, rajin ngajak obrol kami, karena dia cukup memahami bahasa Inggris, meski orang Thailand. Setelah itu, ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia dia juga memahami, jadi karena hal ini kami juga tidak sungkan meminta pendapat tentang lokasi wisata yang recommended bagi turis (daripada harus mendatangi total semua lokasi).


Siang itu, babang Songthaew memberi kami buah nanas potong (yang segar - kayaknya - karena ngga sempat kami foto). Aku bukan penyuka nanas, jadi tidak mencicipi langsung, Beberapa buah di Thailand yang paling iconic yakni nanas, mangga, kelapa muda, dan durian. Meskipun di Indonesia jenis buah ini juga ada, namun rasa dan tingkat kesegaran (kelapa muda, khususnya) masih un-explainable, bisa  beda. Penasaran bukan?

Let's travel to Thailand!


Tulisan ini telah dipublikasikan di Detik Travel, 8 Desember 2017:
https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3555764/kuil-dengan-ratusan-patung-buddha

September 26, 2017

AYUTTHAYA PART 2: WAT MAHA THAT

“Culture is the arts elevated to a set of beliefs." - Thomas Wolf



Bicara soal pengalaman pertama ke Thailand, first impression-ku adalah:
 "tzzuhuuuuu udarah!"

Indonesia adalah negara tropis, ya betul. Bahkan mayoritas negeara- negara Asia Tengara lainnya. Tapi tak dinyana - nyana (((nyanaaaaa))) bahwa Thailand terasa lebih hangat baik siang ataupun malam hari. Pertama kali keluar dari bandara Don Mueang, udara panas dari jalanan kota Bangkok langsung menderu - deru plus debu angkutan umum (pas banget ke muka). Sesaat setelah menunggu skitar 10 menit (akhirnya) bus ke daerah Chatucak. Kamu bisa naik bus jurusan A1 atau A2 keduanya melalui rute Chatucak. Setelah tengok kanan kiri dan mendapat kursi duduk, kami mulai terkagum lagi dengan keahlian kondektur saat meminta uang tiket. Kondektur menggunakan benda seperti bambu silinder panjang sekitar 30cm, berisi koin dan dia akan menggunakan tepian bambu (yang menyerupai sisi penggaris) untuk menyobek karcis yang sudah kita beli. Jelang malam di Bangkok, kami hanya jajan makanan pinggiran di dekat hotel yakni campuran bihun jagung, jamur dan sayuran dengan kuah Tom Yam. Asli enak! (((sumringah))). Setelah itu kami juga sempat mencoba sate seafood dengan saus asam manis (lagi lagi asam) duduk lesehan di depan Seven Eleven (karena beberapa penjaja makanan ini justru ada di depan Sevel). Sebelum kembali ke hotel, kami belanja keperluan perut lainnya dan bekal sarapan perjalanan besok paginya di  Seven Eleven dekat hotel.



Pagi harinya. 
Setelah full mengisi air minum di tumblr, kami bersiap perjalanan ke Ayutthaya. Butuh sekitar 1.5 jam untuk mencapai kota tersebut. Hari pertama ke Ayutthaya, kami masih perlu menyesuiakan transportasi efisien apa yang harus kami gunakan (bahkan untuk sampai ke Stasiun Bang Sue terlebih dahulu kami perlu banyak bertanya). Kami sempat ((((early lunch))) di warung - warung makan (semacam warteg) di luar pintu stasiun sebelum naik kereta ke Ayutthaya.


Seperti yang aku sempat tulis di post pertama tentang Ayutthaya, bahwa kecenderungan suhu udara di Thailand memang panas (mau bilang hangat, tapi kok nggak pas juga). Apalagi, sepanjang Ayutthaya belum banyak gedung tinggi, hanya aspal panjang terbentang, rumah kanan kirinya juga tidak terlalu padat, kemudian untuk di masing -masing lokasi memang mayoritas bangunan atau reruntuhan tua, Batu - batuan yang dulunya adalah gedung / kerajaan ini saat ini masih dijaga kelestariannya bahkan menjadi obyek wisata yang payut untuk dikunjungi, khususnya bagi Anda yang menyukai tentang sejarah dan tradisi.

Dok. Pribadi. Stasiun Ayutthaya

Apa saja yang menarik di Wat Maha That?
Ada beberapa hal yang menjadi poin menarik dari lokasi wisata ini diantaranya:
1. Buddha's Head in Tree Roots. Patung kepala Buddha ini menjadi unik karena dia ada di tengah lilitan akar pohon. Para wisatawan antri untuk berfoto di depan patung ini karena menjadi patung yang iconic di tempat wisata ini.


2. Reruntuhan bangunan di Wat Maha That masih cukup terawat hingga ini. Meski ada beberapa bagian yang rusak, karena bekas perang dengan kerajaan Burma di masa lampau namun justru reruntuhan peninggalan kerajaan Ayutthaya ini menjadi nilai plus bagi wisatawan.


Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That


Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That


3. Wat Maha That dekat beberapa komplek wisata lainnya. Sebagai informasi, kerajaan Ayutthaya dulunya adalah kerajaan kaya yang memiliki banyak harta benda, arca buddha dan patung - patung tak ternilai harganya, namun karena kalah perang dari kerajaan Burma, harta benda tersebut sirna dijarah.

Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That

Dok. Pribadi. Kompleks wisata Wat Maha That
Kami berkeliling Wat Maha That tepat mendekati siang hari, mengingat kami hanya menyewa Songthaew hingga sebelum pukul 15.00 waktu setempat maka kami berusaha memaksimalkan datang ke obyek wisata favorit saja. Dominasi lokasi wisata di Ayutthaya adalah candi, jadi mau ke berapa pun lokasi kebanyakan yang akan kamu lihat adalah deretan candi - candi. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di satu restaurant sederhana di dekat Wat Maha That sebelum lanjut ke obyek wisata selanjutnya.




Tiket Masuk Wat Maha That.
Biaya masuk Wat Maha That adalah 50 baht per orang. Bagi kamu yang berencana liburan ke Ayutthaya, bisa dibilang mayoritas tiketnya dipatok sama yakni sekitar 50 baht bahkan ada yang lebih murah sekitar 20 - 30 baht tergantung obyek wisata yang akan kamu kunjungi. Sewa Songthaew 800 baht (sekitar Rp. 336.000) ke 4 - 5 lokasi (disesuaikan waktu yang kamu punya. Jujur saat itu, kami hanya bisa mengunjungi 3 lokasi, dan 1 lokasi makan saja, karena waktu yang kami miliki terbatas. Kami hanya punya waktu kurang dari 4 jam, jadi kami memutuskan untuk mengujungi lokasi yang paling favorit turis.

Dok Pribadi. Area pembelian tiket

Tips liburan ke Wat Maha That:
  1. Rencana awal kami ingin menyewa motor, namun kami bisa menyarankan kamu (khususnya jika group holiday) untuk menyewa Tuk - Tuk (muat hingga 3 orang) atau Songthaew (muat maksimal 6- 7 orang).
  2. Selalu tawar harga sewa Tuk - Tuk / Songthaew. Harga mula yang ditawarkan kepada kami adalah 1.200 baht namun dengan pertimbangan A dan B akhirnya agen Songthaew (di dekat pintu keluar stasiun Ayutthaya) memberikan harga lebih murah (meski kita juga nggak tau ya, itu benar harga spesial atau sebenarnya harga umum).




Selamat jalan - jalan!


Tulisan ini telah dipublikasikan di Detik Travel, 8 Desember 2017:
https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3555764/kuil-dengan-ratusan-patung-buddha



September 25, 2017

LIBURAN DI THAILAND, COBA 5 JENIS TRANSPORTASI INI

"Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an
activity but in doing it." - Greg Anderson


Bagi Anda yang punya rencana liburan ke Thailand, pastinya selain mempersiapkan segala kelengkapan tiket transportasi dan akomodasi, pasti juga telah siap dengan jadwal selama berwisata. Namun, hal yang biasanya terlewat adalah detail angkutan umum yang akan kita gunakan selama liburan. Apabila Anda memilih berwisata menggunakan jasa agen wisata, hal itu tentu sudah bukan lagi masalah mengingat seluruh kebutuhan transportasi dari satu lokasi ke lokasi wisata lainnya sudah disiapkan. Berlibur ke suatu negara, tidak hanya tentang pengalaman mengunjungi lokasi wisata yang ada di negara tersebut, namun juga proses perjalanan dimana Anda akan menemukan orang - orang baru, pengalaman mencicipi kuliner lokal, ataupun keseruan mencoba berbagai transportasi lokal yang ada. Thailand menjadi satu negara yang memiliki sistem transportasi yang baik. Tidak hanya transportasi modern, namun transportasi tradisional juga masih aktif digunakan dan digemari oleh warga lokal maupun wisatawan. Di negara ini, angkutan online justru bukan menjadi opsi favorit, karena masyarakat lokal khususnya cukup aktif menggunakan angkutan umum yang tersedia. Tentunya Anda tidak ingin melewatkan asyiknya pengalaman menggunakan angkutan umum di Thailand bukan? Berikut 5 jenis transportasi di Thailand yang harus Anda coba:


1.Bus Umum

Hampir di setiap negara memiliki bus umum. Bus merupakan angkutan publik yang cukup diminati banyak orang karena selain harganya terjangkau, pada umumnya tersedia banyak shelter yang memungkinkan penumpangnya tidak berjalan jauh hingga stasiun setiap harinya. Demikian juga di Thailand, meski ada satu terminal khusus yang cukup besar, namun Anda dapat mudah menemukan shelter bus di beberapa titik spot keramaian misalnya di depan toserba, tepian jalan besar dan lain sebagainya. Ada tiang penanda khusus untuk shelter tambahan seperti ini jadi Anda tidak perlu bingung mencari lokasi pemberhentian bus. Umumnya juga, lokasi shelter akan banyak kerumuman orang yang juga menanti beberapa jalur bus ssesuai dengan tujuan masing - masing penumpang. Harga tiket bus di Thailand sangat terjangkau, apabila dirupiahkan mulai Rp. 3000 sesuai jarak tujuan pemberhentian.


2. BTS  dan MRT

BTS dan Mass Rapid Transit (MRT) di Thailand menjadi satu angkutan publik yang mayoritas di gunakan oleh warga lokal maupun dari luar Thailand. Apa bedanya BTS dan MRT di Thailand? Untuk mudahnya, BTS adalah angkutan seperti kereta layang tentunya bukan kereta biasa yang kita temui di Stasiun Gambir atau semacamnya. Kereta bermesin khusus ini akan melalui beberapa stasiun pemberhentian. Anda akan mendapatkan kartu khusus seperti peta sederhana yang tertulis beberapa nama stasiun pemberhentian. Kartu ini juga berperan sebagai tiket masuk ke peron, caranya tinggal di tempel ke pintu masuk peron. Sementara itu sedikit berbeda dengan MRT, tiket masuk peron berbentuk koin hitam, yang harus ditempel saat masuk peron dan dimasukan ke satu lubang dalam mesin (menyerupai lubang celengan) di gate. Selain harga terjangkau rata 30 - 45 baht sekali jalan sesuai dengan tujuan, nilai plus transportasi ini adalah cepat dan terhindar macet. Jangan khawatir Anda akan menunggu lama jika tertinggal kereta BTS atau MRT, karena jenis transportasi ini akan melintas di setiap stasiun setiap 3 -10 menit maksimal.

Sumber: Dok. pribadi Instagram @dinataayu

3. Kereta

Anda tentunya pernah naik beberapa kereta lokal baik antar kota maupun provinsi. Thailand juga memiliki kereta lokal dengan berbagai tujuan pemberhentian. BTS dan MRT tidak menjangkau seluruh sisi kota ataupun pinggiran kota di Thailand. Apalagi jika Anda, ingin berkunjung ke beberapa tujuan wisata di Chiang Mai ataupun  Ayutthaya, maka Anda perlu naik kereta lokal ini. Anda bisa menjangkau stasiun dengan MRT ataupun dengan bus umum.

Dok. pribadi Instagram @dinataayu

Dok. pribadi Instagram @dinataayu

4. Boat dan Perahu

Di Indonesia, tidak banyak daerah yang menjadikan perahu mesin sebagai satu transportasi harian. Apabila Anda berkunjung ke Grand Palace, Wat Arun ataupun Wat Po di Thailand, pastinya Anda harus menggunakan boat atau perahu untuk menyeberang melewati sungai Chao Phraya. Harga naik boat ini sekitar 15 baht per tujuan, atau ada pula yang menawarkan paket 150 baht untuk akses boat ke beberapa pemberhentian tanpa harus dipungut biaya lagi. Jika Anda dari Asiatique, terdapat pula perahu gratis yang bisa Anda gunakan, namun karena free Anda perlu antri cukup panjang di waktu ramai pengunjung.

Dok. pribadi Instagram @dinataayu

5. Tuk - Tuk  dan Songthaew

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari mencoba naik transportasi tradisional. Tuk - Tuk  dan Songthaew adalah jenis transportasi tradisional Thailand. Anda akan mendapatkan pengalaman perjalanan yang tak terlupakan khususnya mengebut bersama supir Tuk - Tuk dengan suara angkutannya yang berisik itu. Keseruan ini juga tidak henti, saat Anda dapat melihat keindahan kota sekitar saat mengendarai Tuk - Tuk ataupun Songthaew karena tidak ada kaca (seperti taksi ataupun kaca mobil), angin -angin akan menerpa wajahmu tentunya dengan cuaca Thailand yang cenderung hangat sepanjang tahun. Meski demikian, baik Tuk - Tuk  maupun Songthaew merupakan transportasi yang paling mahal jika dibandingkan dengan beberapa jenis transportasi yang sudah diulas di atas. Harga naik Tuk -Tuk sekitar 100 - 250 Baht begitu juga dengan Songthaew. Namun untuk sewa khusus untuk paket perjalanan, harga Songthaew bisa lebih mahal yakni 500 - 1000 Baht dengan beberapa kali pemberhentian di lokasi wisata berbeda sesuai paket yang Anda pilih.

Dok. pribadi Instagram @dinataayu
Sebagai  tips saat menggunakan angkutan lokal di Thailand, pastikan Anda menanyakan tarif sebelum naik angkutan yang Anda. Apalagi jika Anda tidak yakin dengan harga atau tidak ada keterangan harga di papan harga tiket. Tips kedua, tawarlah harga. Khususnya jika Anda akan naik Tuk - Tuk, Songthaew, atau perahu mesin. Beberapa jenis angkutan harganya masih sangat fleksibel, kecuali BTS, MRT, ataupun kereta telah memiliki aturan harga masing - masing. 



Selama berlibur di Thailand!

June 30, 2017

#TRAVELHILIGHT: JIM THOMPSON HOUSE THAILAND

“Travel far enough, you meet yourself.”
― David Mitchell, Cloud Atlas



Jim Thompson House menjadi satu tujuan utama yang paling membuatku penasaran. Pada dasarnya Jim Thompson adalah rumah (yang di dalam satu kompleks tersebut, kamu bisa menemukan berbagai gedung lainnya, rumah utama, rumah-rumah dengan ukuran yang lebih kecil, taman dan kolam yang indah serta asri). Rumah ini menjadi satu bangunan yang mencerminkan rumah tradisional Thailand, dibangun oleh Jim Thompson. Sekilas tentang Jim Thompson, Beliau sebenarnya adalah seorang arsitek berkebangsaan Amerika. Namun pada masa perang dunia II, Jim Thompson diminta bergabung dengan US Army dan bertugas di Eropa dan Asia. Pada saat itulah dia ditugaskan di Thailand, tepatnya di Bangkok. Kecintaanya terhadap Thailand mendasarinya membangun rumah bergaya khas lengkap dengan 6 rumah tambahan (disekitar rumah / bangunan utama).



Bahan yang digunakanpun seluruhnya  kayu jati dengan interior yang masih dijaga hingga saat ini. Sejak tahun 1967 Jim Thompson hilang bak ditelan bumi, kemudian sejak saat ini rumah ini dikelola oleh pemerintah sebagai salah satu museum. Rumah ini menarik karena Jim membuatnya tidak hanya 100% gaya Thailand namun perpaduan apik dari Barat baik penataan interior bahkan hiasan - hiasan yang ada di dalam rumah.

BIAYA MASUK
Tiket masuk Jim Thompson adalah 150THB per orang sudah termasuk dengan pemandu wisata (kita bisa memilih pemandu dalam bahasa Inggris, Mandarin, Perancis, dan sebagainya). Para wisatawan harus didampingi oleh pemandu salah satunya juga agar informasi tentang museum Jim Thompson ini tersampaikan dengan sesuai selain itu banyak benda-benda bersejarah di dalam gedung, perlu kehati-hatian agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan seperti barang jatuh maupun rusak. 




Sekali tur bersama pemandu, memakan waktu 30-45 menit secara berkelompok sesuai dengan urutan antrian ataupun menurut bahasa dari pemandu. Kami berkelompok dengan turis lainnya (dalam 1 kelompok terdapat kurang dari 12 orang).

POINT OF INTEREST
Setiap sisi dari Jim Thompson House kalau aku bilang adalah "Full of nature & historical touch".  Hal - hal yang perlu kamu tahu tentang Jim Thompson adalah taman yang indah (itu adalah hal pertama yang menarik perhatianku. Kenapa? Karena aku suka sekali dengan pemandangan hijau, serta suasana yang asri. Selain penataan taman yang apik, gedung utama beserta isinya menjadi hal yang sangat menarik. Sebelum tur, wisatawan diminta untuk menitipkan tas, tongsis, serta bawaan yang cukup besar di lemari penitipan barang. Sementara saat masuk ke gedung utama, wisatawan juga harus melepas alas kaki dan tidak diijinkan mengambil gambar. Secara berurutan pemandu akan menjelaskan beberapa informasi dan berjalan - jalan dimulai dari:


1. Taman depan. Bisa dibilang ada 3 x pintu masuk, pertama gate depan untuk masuk ke bagian tiketing, kita akan menemukan gedung budaya dan tempat membeli souvenir, dan restoran sebelah kanan, kemudian akan bertemu lagi gate/pintu dari pepohonan hijau. Disana ada satu gedung lagi, sebelah kiri ada gedung tempat para pemandu bersiap  dan tempat wisatawan mengantri untuk mendapatkan kelompok, serta bagian kanan ada gedung utama. Di area tengah kamu bisa duduk sembari melihat ikan - ikan cantik di kolam dengan pepohonan yang teduh. (kalau lebih lama lagi menunggu mungkin aku bisa tiduran di sini lengkap dengan angin sepoyyy - sepooyyy). Kami menunggu sekitar 10 menit saja hingga pemandu dalam bahasa Inggris siap untuk mengajak kami berjalan - jalan.





2. Taman dalam. Ada satu pintu lagi (yang lagi - lagi hanya lebih mirip gate dari pemohonan dan tanahan bunga-bungaan indah). Pemandu mengajak kami melalui taman di bagian kiri melewati 2 rumah kecil. Dia menjelaskan tentang history awal Jim Thompson, dan berbagai gedung yang ada.



3. Melalui 6 rumah kecil. Selain gedung utama, Jim Thompson juga membangun 6 rumah lainnya dengan ukutan lebih kecil. Setiap rumah di depannya juga lengkap dengan taman serta kolam kecil. Dari satu rumah ke rumah lainnya  kita melalui jalan setapak yang sudah didesain sedemikian rupa sehingga nampak cantik dengan batu - batu kerikil dan pot-pot bunga.



4. Gedung utama. Di sinilah terdapat kamar, ruang kerja, dapur, ruang makan dan lain sebagainya. Aku cukup amazed dengan interior dan lantai kayu yang mengisi seluruh gedung. Bahkan hiasan berbahan keramik, porselen, kayu dan lainnya bisa kamu temukan di sini. Sayangnya wisatawan tidak diijinkan mengambil gambar di ruangan ini.

Foto di depan Gedung utama


5. Ruang tengah. Kenapa ini jadi hilight terpisah? Karena memang ini adalah spot favoritku. Bisa dibilang ini seperti rumah dengan pemandangan taman belakang rumah. Lengkap dengan lain kayu, tempat duduk santai, dan peralatan entertainment pada jamannya dulu. Bagian rumah ini memiliki pintu lebar yang menghadap taman belakang. Bisa dibilang pintu ini memang dibiarkan terbuka.




6. Tempat penitipan barang & restoran. Restoran yang ada di Jim Thompson juga tak kalah asri. Di tepi restoran ada kolam ikan dan tanaman-tanaman asri.





7. Ulat sutra. Loh? Kok bisa? Karena di dekat area tiket terdapat beberapa nampan berisi benang-benang hasil produksi ulat sutra. Ini menjadi satu produk unggulan dan juga hal menarik karena biasanya akan ada pengrajin yang mendemokan teknik pewarnaan benang.




MENUJU JIM THOMPSON
Ada beberapa opsi transportasi yang bisa kamu gunakan menuju Jim Thompson (daerah Dusit). Tapi aku merekomendasikan menggunakan BTS Skytrain, turun di National Stadium (dekat MBK Center). Keluar dari exit gate dan kamu tinggal berjalan sekitar 200 meter dari jalan Soi 2 Kasensam Rama I Road menuju ke rumah di ujung gang (dari pintu keluar stasiun BTS balik arah).



JAM KUNJUNGAN
Bagi kalian yang menyukai wisata sejarah maka Jim Thompson House bisa menjadi salah satu pilihan yang tak boleh terlewat. Waktu kunjungan adalah buka setiap hari dari jam 09.00-17.00 WIB. Tidak ada aturan khusus untuk berpakaian ataupun larangan membawa makanan dari luar.





May 3, 2017

BANGKOK: CITY & TRANSPORT

Di Airport

Perjalanan Bangkok di mulai dari penerbangan Air Asia dari Singapore  ke Don Mueang Airport. Hal -hal apa yang perlu kamu perhatikan saat melakukan perjalanan ke Bangkok (khususnya jika jalan sendiri dari Airport ke Airport). Jangan lupa untuk selalu menaruh borading pass, passport, dompet di tas yang gampang kamu jangkau. Selain itu harus selalu peka sama kode penerbangan, jam boarding/check in, pesawat apa, gate berapa dan hal-hal detil seperti itu. Perjalanan ke luar negeri kadang membuatmu sedikiti panik, atau kelupaan. Hehehe..... Dalam beberapa kasus bisa juga salah gate, bahkan tidak memperhatikan jam boarding. Yang paling penting adalah: Jangan datang ke airport mepet!

Changi Aiport - Nunggu jam boarding 

Di Pesawat

Kebetulan aku dapat maskapai Air Asia Thailand, jadinya bisa jajan pakai Bath (mengingat dolar singaporenya udah mepet, wkwkkw). Saat di pesawat kamu akan menerima Arrival Card yang harus diisi lengkap dan nantinya akan diminta di imigrasi Thailand. Sebagai informasi tambahan, jika pihak imigrasi Thailand nantinya akan menyobek sebagian kertas (Arrival Card) dan menyerahkan kembali kepada kita, jangan sampai hilang ya, karena nantinya sobekan kartu kita sertakan kembali saat meninggalkan Thailand. Better memang sebelumnya kami membuat catatan kecil tentang informasi stay kamu selama di suatu negara seperti akan tinggal di hotel apa, alamat dimana, nomor telepon berapa, dan semacamnya. Hal itu yang akan diisikan juga di Arrival Card ini, sehingga kamu tidak perlu bingung mencari data ataupun cek algi di email itinerary. 
Arrival Card masuk Thailand

Touch down Bangkok!


Setelah 2 jam penerbangan dari Singapore, akhirnya landing dengan sebaik mungkin di bandara Don Mueang Bangkok, Thailand. Lepas melalui imigrasi Don Mueang dengan selamat dan tidak terlalu banyak ditanya-tanya, akhirnya menuju ke ruang tunggu kedatangan karena siang itu adik iparku, Ima juga akan landing dengan pesawat berbeda (harusnya jika sesuai jadwal selisih pesawat kami kurang dari 1 jam, tapi karena entah satu dan lain hal, akhirnya hampir 2 jam menanti).



Bandara Don Mueang tidak terlalu luas seperti bandara Suvarnabhumi meski sama-sama terletak di Bangkok. Jarak kota dari dua bandara tersebut sebenarnya juga tidak jauh berbeda. Kami naik bis dari shelter bus di depan Don Mueang menunggu rute/jurusan A1 ke arah Chatucak dengan biaya sekitar 30 bath per orang. Tidak perlu bingung karena kamu hanya tinggal menunggu bis A1 lewat depan Don Mueang, dan pembayaran dilakukan di dalam bus.

Don Mueang Airport - Arrival Gate

Kondektur akan menarik pembayaran dan kamu tinggal perlu menyampaikan tujuan pemberhentianmu. Sore itu sekitar pukul setengah 6 waktu bangkok, dan matahari juga belum gelap, masih kayak jam 4 sore kalau di Indonesia. Perjalanan dari Don Mueang ke Chatucak sekitar 30 menit. Kami turun tepat di dekat Mo Chit station, dan berjalan sekitar 500 meter ke hotel kami (G9 Bangkok Hotel). Sebenarnya hotel kami sangat dekat dengan jaringan MRT dan BTS bahkan dekat area shelter bus. Hanya saja karena ada gedung BTS Skytrain di sana, kami harus jalan memutar (alias ngga bisa bypass meski hotel kami ada di balik gedung BTS ini). Capek banget sih ngga, cuma ngos-ngosan dikit apalagi kalau jalan kondisi lengkap barang bawaan. Hehehe....


Di Hotel

Nama hotel kami adalah G9 hotel Bangkok dengan tarif kamar sekitar Rp. 325.000 per malam untuk twin room tapi kemarin sempat memanfaatkan poin diskon dari Traveloka sehingga total akomodasi 3 hari kena diskon sekitar 25%, lumayan kan. Selalu cek review dari masing-masing hotel yang ingin kamu tinggali saat traveling, cek juga dengan tujuan mana saja, jalur transportasi ke dan dari hotel dan tentunya review dari para traveler sebelumnya. Kalau bicara soal penilaian tentang hotel ini, aku bisa bilang 79 dari 100. Engga jelek tapi juga ngga totally perfect. Good enough lah ya.

BTS view dari jendela kamar hotel.

Proses check in berjalan cukup cepat dan lancar, dari pihak hotel meminta deposit 500 Bath untuk antisipasi kerusakan ataupun kehilangan barang (hal ini sebenarnya sudah biasa diterapkan di banyak hotel). Sampai di Bangkok adalah hari Minggu malam. Ternyata hari Minggu benar-benar jadi hari libur bagi sebagian besar pekerja ataupun perusahaan di Bangkok. Jalanan ke arah hotel tidak terlalu ramai dan penerangan juga tidak terlalu cerah (bisa dibilang agak remang-remang malah).


Makan malam

Malam harinya kami keluar hotel dan bertanya dengan petugas dimana kami bisa mendapatkan makan malam di sekitar hotel. Petugas hotel menyampaikan bahwa hari itu adalah hari Minggu dan banyak warung libur, dia merekomendasikan untuk membeli makanan di Seven Eleven atau ke mall. Jarak ke mall cukup jauh, dan kami harus naik BTS Skytrain untuk sampai ke mall terdekat. Akhirnya karena sudah malam, aku dan onty (panggilanku ke Ima) akhirnya datang ke Seven Eleven dekat hotel (hanya 3 menit jalan kaki).

Nasi Telur versi Bangkok - 37 Bath

  Kiri: Soya milk (Dibeli karena gambarnya lucu) Kanan: Pilihan makanan frozen

Selain membeli makanan frozen (petugas toko membantu memanaskan makanan kami) di depan seven eleven juga ada penjaja makanan/jajanan. Kami cukup sulit berkomunikasi dengan warga lokal karena tidak semua dari mereka memahami bahasa Inggris. Bahkan untuk bertanya nama makanan yang mereka jual, kami juga kesulitan menanyakan harga. Untunglah mereka menyediakan papan kecil dengan nominal harga (dan lengkap dengan tulisan Thai yang rumit - kayak perjalanan hidup aku), sehingga kami hanya perlu membayar sesuai dengan nominal yang mereka tunjukan (dan tanpa kami tau nama makanan yang kami coba).

Gurita - Gurita ini yummy banget. Harga 15 bath per pcs.


 
Kuahnya rasa tom yam, sayur setengah mateng plus seafood melimpah . Harga 50 bath



Transportasi & Harga

Sebelum berpetualang esok harinya, kami masing-masing sempat baca-baca blog traveler lain yang telah mengunjungi Thailand. Ada beberapa transportasi pilihan diantaranya MRT, BTS (Skytrain), Bus, Tuk Tuk, Kereta, Boat/perahu/ transportasi air lainnya. Pada tahap awal aku sempat bingung, apa bedanya MRT, BTS, dan kereta karena dari jendela hotel kami bisa melihat jalur kereta di atas permukaan, seperti jembatan layang. 

Suasana di lorong MRT Bangkok

Stasiun BTS Skytrain
Pada jam sibuk, antrinya BTS bisa segini ramai. Tapi pasti keangkut semua.
Akhirnya aku membuat kesimpulan sederhana, MRT adalah kereta bawah tanah, BTS adalah kereta layang, dan yang disebut kereta adalah transportasi kereta (yang benar-benar kereta) dimana kita harus datang ke stasiun kereta untuk menunggu rute kereta yang kita maksud. Contohnya kita datang ke Gambir, pasar Senen, atau kalau di Yogyakarta kita ada stasiun Lempuyangan atau Tugu. Sistem transportasi di Bangkok cukup terkoordinir dengan baik. Bagi traveler yang datang ke negara ini, akan mudah memahami jalur transportasi karena dapat mudah menemukan papan rute, peta stasiun dan jadwal keberangkatan. Jumlah armada yang cukup banyak membuat penumpang angkutan di Bangkok tidak akan lama menunggu, bayangkan untuk menunggu kereta MRT atau BTS saja sekalinya aku tertinggal kereta, skitar 3 menit kereta selanjutnya sudah datang lagi. Bayangkan berapa jumlah armada yang aktif di jam operasional. Apalagi melayani sampai malam sekitar pukul 11 malam. 

Stasiun Kereta  Hua Lamphong - Bangkok
Stasiun Kereta
Bagaimana dengan harga?
MRT aku mencobanya sekali untuk menuju ke salah satu stasiun Bangsue (akan aku ceritakan lengkapnya di perjalanan ke Ayutthaya). Kami bisa membeli tiket di petugas tiket MRT dan menyebutkan stasiun tujuanmu. Kamu akan mendapatkan semacam koin hitam yang akan di tap/ sentuh ke entrance gate MRT (Jangan sampai salah rute!) Baiknya tanya sih, tapi di sini bertanya ke masyarakat lokal itu benar-benar sulit. Hrrrrr...... Mau sepintar apapun bahasa Inggris yang kamu kuasai, kamu mendadak harus bisa menggunakan perpaduan bahasa verbal - sederhana - digabung dengan bahasa tubuh dan - lambe (Read: mulut). Harga MRT dan BTS pun disesuaikan jauh dekat tujuan pemberhentianmu. Rata -rata yang aku kunjungi adalah 30 - 45 bath sekali jalan, per orang. Bedanya adalah MRT pakai koin hitam sebagai tiket, dan BTS menggunakan kartu yang juga perlu kamu tap di entrance gate (kartu ini dilengkapi dengan rute tujuan dan pemberhentian tiap stasiun jadi kamu nggak usah khawatir hilang).


 Kiri: Kartu tiket BTS Skytrain. Kanan Atas: Mass tranportation di Bangkok. Bawah: Koin MRT

Kereta lokal juga tarifnya cenderung terjangkau, tergantung dengan jenis kereta seperti ordinary (hemat), express ataupun lainnya. Lantas untuk boat umumnya dikenakan sekitar 15 bath per orang. Ada juga yang menawarkan paket turis 150 bath berfungsi ke beberapa pemberhentian di rute Chao Phraya seperti Wat Po, Wat Arun, Asiatique, Grand Palace, Chinatown dan lain sebagainya. Namun karena kami hanya butuh tiket sekali jalan, maka kami membayar single tiket aja (plus dengan petugas ibu - ibu yang berdandan sangat aneh bak rambut Pikachu lengkap sama blush on nya juga (mau motret si ibu susah, takut kualat). Dia biasanya "ngetem" di tiketing boat dekat dengan Sephan Taksin Stasiun.

Shuttle boat - 15 bath per org

Penumpang boat/perahu

Nah gimana soal harga tuk-tuk. Bisa dibilang ini transportasi paling mahal menurutku (entah klau taksi, karena aku sama sekali ngga mencoba taksi di Bangkok). Kamu harus pintar menawar jika ingin menggunakan Tuk - Tuk dan pastikan dimana tujuan kamu, dan seberapa jauh tujuan kamu (nggak ada salahnya menyalakan GPS). Menyalakan GPS sepanjang jalan bisa berfungsi meningkatkan mawas diri juga dan peka dengan tujuan kita, nggak kebablasan, ataupun nggak salah turun dari angkutan. Saya menggunakan Tuk - Tuk untuk tujuan Khao San Road menuju BTS National Stadium (sekitar 7 kilometer) dan akhirnya berhasil menawar dari 300bath ke 180 bath (ini pun pakai usaha banget - memelas) Wakakkakk....... (Engga gitu juga sih)

Bus di Bangkok

So that's all!
Beberapa informasi tentang Bangkok (city & transport). Harusnya bisa lebih banyak yang bisa aku share di post kali ini, tapi jika ada hal yang ingin kamu tanya bisa leave comment below. Biar sama -sama aku inget apa yang belum di bahas. 


Next post aku bakal share tentang perjalanan ke Ayutthaya, salah satu kota dengan berbagai situs peninggalan Buddha di Thailand. Jarak kota ini sekitar 1,5 - 2 jam maksimal dari kota Bangkok. Kemana saja kita selama di Ayutthaya? Cek post selanjutnya ya.....




Copyright © 2014 FILOSOFAST

Distributed By Blogger Templates | Designed By Darmowe dodatki na blogi