Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

January 5, 2019

RESOLUSI 2019: UNTUK APA KITA PUNYA RESOLUSI?

“Believe in yourself! Have faith in your abilities! Without a humble but reasonable confidence in your own powers you cannot be successful or happy.”
—Norman Vincent Peale





Ayo bicara tentang resolusi.
Katanya, tahun baru itu, identik dengan harapan dan impian baru di tahun depan. Tapi aku sempat mikir, bagaimana jika harapan di tahun sebelumnya juga belum tercapai, boleh dilanjutkan kah? Hahaha...... Resolusi bukanlah parameter untuk menentukan kesuksesan seseorang, atau kebijaksanaan, bahkan impian manusia. Bagi beberapa orang perayaan tahun baru menjadi satu dorongan semangat baru untuk lebih baik (pada intinya) daripada tahun sebelumnya. Tapi lantas, pada akhirnya dorongan "lebih baik" ini bisa datang dan hilangs seiring berjalannya waktu tanpa adanya mental kuat dan konsistensi dari pelakunya. Kemudian, bagi mereka yang tidak atau belum berpikir tentang apa yang mau mereka capai di tahun 2019. ada beberapa diantaranya bingung tentang mimpi mereka, atau mungkin banyak yang ingin dicapai tapi entah mana prioritas mereka atau mana yang ingin dicapai lebih dulu. Lucunya lagi, tidak sedikit dari mereka yang masih menjadi genk "let it flow" yang berpikir hidup ngga akan secomplicated itu, biarin jalan apa aadanya dulu. Pemikiran ini bukan salah, pastinya akan ada result yang berbeda dengan masing masing action yang dipilih. Sebagai contoh saat kamu pergi traveling dengan "nyemplung" gt aja, bisa jadi kamu akan nemuin kejutan seru dengan orang - orang lokal, teman - teman baru, pengalaman seru yang belum pernah kamu alami sebelum, TAPI, bisa jadi juga kamu tersesat di jalan, atau ketemu orang yang ngga asik, bahkan buruknya bisa jadi korban kriminalitas di negara orang, oh no! jangan sampe!.

Sabtu siang ini, mendung semakin menghitam, padahal belum ada jam 2 siang. Sembari menulis, aku asyik mendengarkan  lagu Matt Johnson - Just Like You di Spotify yang nggak premium. Aku ada beberapa hutang tulisan tentang cerita travelingku di Melaka beberapa waktu lalu, namun mumpung masih awal Januari 2019 aku ingin cerita tentang apa pentingnya resolusi tahun baru untukku.

Macau. Source IG @DinataAyu

Tahun lalu, aku menulis 1 keinginanku, dan aku tidak dapat mencapainya tahun ini. Aku pikir lagi kenapa ya kok bisa meraih itu, padahal biasanya aku orang paling getol bab mewujudkan impian. Setelah beberapa hari mikir, ternyata tidak semua keinginan kita adalah apa yang kita butuhkan atau prioritaskan, Bahkan mungkin kita inginkan begitu saja, dadakan, karena adanya stimulus yang datang dari banyak faktor. Tahun 2018, aku pengen banget ke Danau Kawaguchi, Jepang. Lihat danau itu dari dekat dengan semua pemandangan indahnya. Tapi, setelah dipikir lagi, Jepang jadi salah satu negara yang memang belum membuatku jatuh hati. Mungkin karena itu, aku secara sadar ngga sadar ngga merealisasikan impian Kawaguchi-ku. Lepas dari itu, aku justru mewujudkan impianku di dua tahun sebelumnya, MELAKA. Setelah jatuh hati dengan Penang dan seluruh budaya & historynya, aku ingin Melaka menjadi lokasi kedua favoritku yng harus dikujungi di kemudian hari. Akhirnya justru aku melewatkan Kawaguchi di tahun ini, untuk melenggang cantik menikmati kota indah, khas peranakan di Melaka.

RESOLUSI MENDORONGKU UNTUK BEKERJA LEBIH GIAT
Boleh jadi salah satu fungsiku membuat resolusi adalah dorongan terbaik biar kita jangan mudah menyerah menghadapi seluruh dinamika di kantor. Secara hidup masih jadi karyawati setia, nyari gaji bulanan ditambah uang lembur demi makanan enak dan liburan asyik adalah satu hal yang bisa membuatku semangat. Meski mendadak, tagihan kartu kredit juga mendekati limit karena beli tiket ini itu, tapi kadang dengan kayak gini aku malah lebih rajin kerja, bukan hanya karena passionku tapi karena aku jadi mampu menghadiahi diriku sendiri setelah leleah kerja seharian. Kurang lebih begitu, kawan - kawan. 

Thailand. Source IG @DinataAyu

RESOLUSI MENDORONGKU BERPIKIR TENTANG TUJUAN
Ada yang pernah bilang padaku, bermimpilah secara spesifik. "Menjadi orang yang lebih baik" terlalu kompleks  karena parameternya belum jelas. Beda kalau kalian bilang, "Aku ingin menjadi orang yang lebih baik dengan rajin menabung sebulan minimal Rp. 500.000". Tulliskan impianmu secara spesifik, dan itu akan membantu kamu untuk menentukan langkah - langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mencapainya. Kadang, aku juga memberikan challenge pada diriku dengan impian - impian konyol yang ngga keliatan serius sebenarnya, contohnya: "Aku tidak akan memotong rambutku sampai tahun baru 2019" - udah konyol, atau kurang konyol. Hahahaha...... 

RESOLUSI MEMBANTUMU UNTUK TAHU SEJAUH MANA KEMAMPUAN  & KONSISTENSIMU
Oke, simpelnya gini: "Aku ingin sebulan menabung minimal Rp. 500.000" adanya resolusi ini tentu akan menantang kamu untuk tahu sejauh mana kamu bisa konsisten terhadap keinginanmu. Bisa saja kamu menabung untuk menonton konser penyanyi internasional, liburan ke Eropa, atau apapun itu, tapi semuanya ada hasil akhirnya. Saat kamu sudah membuat perhitungan untuk meraih hasil akhirmu itu, dan kemudian pada hari yang dinanti, kamu berhasil meraihny, tentu itu bisa jadi kepuasan tersendiri. Pada akhirnya kepuasan bukan hanya tentang kamu berhasil nonton konsernya, tapi berhasil mengalahkan egomu sendiri untuk, berhemat, untuk memperhatikan pengeluaranmu, untuk konsisten dan fokus dengan harapanmu.

Hongkong. Source IG @DinataAyu

RESOLUSI MEMBUATMU SADAR, KAMU MEMILIKI HIDUPMU SENDIRI (JANGAN TERJEBAK RUTINITAS)
Apakah kalian mengalami kekosongan atau merasa terjebak dengan rutinitas yang itu - itu saja setiap hari. Biasanya hal ini terjadi pada pekerja -pekerja dengan load kerja tinggi, kerjaannya dari pagi sampai sore seperti membuatnya lupa tentang kehidupannya sendiri, seperti terjebak di kumparan angin puting beliau, setiap hari setiap waktu dan terus berulang. Resolusi menjadi salah satu kesemppatanmu untuk men-set up goal mu untuk satu tahun, atau mungkin kamu membuatnya jangka panjang 3 tahun, 5 tahun, atau seterusnya.  Aku suka traveling, dan aku mentarget dalam satu tahun minimal aku jalan - jalan ke luar negeri 1x, sebagai wujud hadiah untuk pencapaianku selama satu tahun. Proses bermimpi ini membuatku harus punya waktu untuk diriku sendiri, seperti, aku mau kemana, apa saja persiapannya, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya di hari H nanti, aku akan menggunakan otakku, tidak untuk pkerjaan tapi untuk hal yang berkaitan dengan hobiku, hal yang aku senangi, selain bekerja. Efeknya akan ada keseimbangan yang ada di kepala kamu, tidak melulu satu hal aja yang diinget atau dioptimalkan tapi juga kamu punya "Me Time" untuk dirimu sendiri (tentunya selama dalam hal positif).

Kenapa akhirnya aku menulis tentang resolusi, meski mungkin beberapa orang yang mengenalku akan tahu, aku tidak sedikitipun menulis resolusi dengan serius di sosmed Cuma berisi harapan - harapan receh misalnya, semoga tahun 2019 aku akan lebih inget nama samaranku waktu pesen miinum di Starbucks, atau keinginan konyol, dan semacamnya.

APA RESOLUSIKU TAHUN INI?
Aku akan melanjutkan S2 ku di jurusan Komunikasi Public salah satu Universitas di Yogyakarta, meraih gelar S2 ku di 2020. Aku belum bisa memutuskan apalagi yang mau aku raih di tahun depan, karena satu hal ini masih jadi fokusku yang utama.



December 28, 2017

GAYA HIDUP "BRANDED": SEPENTING APAKAH?

“To be yourself in a world that is constantly trying to make you something else is the greatest accomplishment.” - Ralph Waldo Emerson




Bicara soal barang mahal.
Eh. Bicara soal branded.


Tema blog kali ini, bagi beberapa orang mungkin nampak menyimpang dan jauh dari perihal "traveling" tapi sebenarnya jika dari semua history tulisan di sini ada beberapa postingan tentang life, love, dan tips - tips menarik contohnya tentang public speaking dan sebagainya. Fenomena "barang mahal" atau "barang branded" sebenarnya sudah ada sejak  beberapa tahun lalu, tapi dengan adanya media sosial eksistensi produk maupun konsumen yang ikutan eksis dan menggunakan sosial media sebagai alat untuk mengekspose produk semakin mudah untuk dilakukan. Kenapa hal ini semakin menjadi jadi sekarang?

Manusia sekarang, khususnya netizen atau pengguna aktif sosial media memiliki kebutuhan atas pengakuan dari eksistensi yang aku sempat singgung di atas. Pengakuan ini bisa diperoleh dari berbagai hal yang pada intinya adalah mengelompokan mereka pada kategori tertentu, kesan yang ingin diperoleh melalui personal brand yang mereka tampilkan di timeline sosial media. Sosial media kali ini yang masih aktif dan paling sering digunakan jadi media sharing foto, location ataupun statement bisa melalui facebook, instagram, twitter, path, snapchat, dan ragam medsos lainnya yang semakin menjamur keberadaannya.

Istilah: follow, like, love, dan semua bentuk istilah yang secara simbolis menjadi bentuk pengakuan dari followers, liker, atau inner circle pertemanan si pemilik akun seolah menambah kepercayaan diri, rasa puas, kesenangan, dan semacamnya. Coba bayangkan, 1 kali post foto di instagram, lantas tak kurang dari 1 jam kita mendapatkan puluhan atau bahkan ratusan like, ini memberikan "adrenalin" sesaat untuk bisa mengalami hal yang sama dan sama lagi secara berulang.

Ask Yourself!
Ada beberapa cara untuk menilai, apakah kita termasuk orang ya "nagih" untuk menunjukan status sosial kita di sosial media bisa dengan mengevaluasi diri pada beberapa poin berikut:
1. Apakah kamu suka posting tentang wajahmu (selfie), memperlihatkan lentiknya bulu matamu, seksinya bibir, atau seluruh bagian tubuhmu, yng mendominasi isi album foto?
2. Apakah kamu lebih dominan memposting tentang kegiatanmu dan teman - temanmu di acara bergengsi, atau semacamnya?
3. Apakah kamu sering memposting tentang barang - brang yang kau kenakan, nge-tag brand (atau engga nge-tag tapi di zoom merk nya- hehehe), make up yang kamu pakai dan lain sebagainya?
4. Apakah kamu pernah upload / posting nota belanjaan kamu atau gambar tas belanjaan kamu dengan caption: "Duh kalap nih!" (Jenis kata - kata dwimakna, antara nyesel sama nih gw belanja ini nih. Kekekke!)

Jika dari 3 pertanyaan di atas, hati nuranimu langsung bilang iya, (meski mulut ngeles berkata tidak), berarti sebenarnya kamu sudah mulai ketagihan buat eksis atau mulai "mencintai" pengakuan di dunia maya. Means, kamu ngga perlu tau atau kenal in-personal sama yang ngelike atau yang follow tapi kamu bisa dikenal atau disukai banyak orang dengan postingan kamu. Entah ini sudah menjadi culture baru atau tidak, tapi sedikit banyak para pengguna medsos saat ini mengalami pergesaran tingkah laku. (iya engga hayo ngakuuu...). Lantas apakah ini salah? Aku tidak bisa bilang ini slah atau benar, selama pada kadarnya.

Self Obsession. Source: Callboxinc

We have to remember that:
status sosial manusia satu dan lainnya berbeda, secara ekonomi, secara kesukaan, kehidupan yang dijalani, lingkungan yang berbeda - beda dan banyak faktor lainnya. efek positif kepada orang lain bisa saja kamu jadi inspirasi atau jadi role model mereka, tapi bisa saja efek negatifnya kamu dianggap sombong, pamer, dan semacamnya. Bahkan bisa saja kamu jadi target kejahatan atau perampokan karena pelaku sudah tahu kemampuan ekonomi dan barang mahal yang kamu miliki. Melihat hal ini, kemudian sejauh mana kita bisa mengekspose barang - barang mahal/ branded yang kita punya?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, aku sempat ada dalam beberapa pemahaman tentang keharusan memiliki barang branded. Dengan uang Rp. 5.000.000, sebanyak 5 orang dari 5 teman saya menjawab berbeda satu sama lainnya. Eh waktu itu 5 termasuk aku sih. Ada dari mereka, 5 juta mending beli emas/ perhiatan (arahnya investasi), yang lainnya menjawab tas atau sepatu, lainnya lagi gadget, ada juga yang menyebut perawatan wajah dan semacamnya. Bagaimana denganku? sejauh mana aku menilai brand itu penting?

Evaluasi diri:
Aku mulai bekerja di usia SMA. Ingin beli ini itu banyak sekali, terbatas karena rasa "nggak enak" kalau minta uang sama orang tua (Ye kan sungkan tauk!). Akhirnya karena ini, aku secara tidak langsung diajari tentang bagaimana cara mendapatkan barang - barang yang aku inginkan dengan menabung. Saat kita berhasil menabung, bahkan menabung dari uang hasil kerja, lama kelamaan akan merasa sayang saat membelanjakan uang. Ya iya kan, sejarahnya cari duit itu, susah banget nyarinya, tapi cepet banget habisnya. Setuju?!

Jadi anak kuliahan. Di sini, masih belum paham istilah pentingnya brand. Tapi lama kelamaan, nyoba beli kaos distro (((distro))) yang pas itu lagi hietzzz banget di Yogya. Bolak balik dipakai dan jadi kaos favorit  (kaos doang lo ini) selama berbulan - bulan, hingga akhirnya berhenti pakai pas warnanya udah agak luntur karena keseringan cuci pake.

Jadi pekerja. Pada fase inilah perubahan demi perubahan mulai muncul. Perkembangan paham barnd ini hanya sekitar 20% (saja). Di sini, aku hanya menggaris bawahi produk - produk make up khususnya lipstik ataupun bedak, sementara untuk fashion dan asesoris pendamping lainnya masih bukan menjadi konsentrasiku. Waktu terus berkembang, akhirnya aku mulai memiliki kecenderungan tertentu kalau urusan brand. Tapi, God blessed aku masih bisa dibilang aman dari sifat "shopaholic" dan congkak (kayaknya sih. Hehhehe...) Aku lebih prefer mengeluarkan budget lebih untuk hal hal seperti liburan/ traveling. Sementara untuk produk, tas dan sepatu bukan pilihanku, justru aku lebih berpikir aku tidak bisa bertahan dengan 1 jam tangan saja atau hanya punya 1 gadget saja (gadget dalam hal ini bukan berarti aku harus punya banyak hp atau upgrade HP mulu dengan seri terbaru). Aku penyuka teknologi (meski aku ngga paham - paham banget tapi aku berusaha tau) dan aku suka belajar hal baru, termasuk membuar video, tools untuk editing, jadi saya mending beli mahal untuk perlengkapan pendukung seperti kamera, asesoris, atau mungkin tidak menutup kemungkinan saya akan lebih memilih drone dari pada tas Marc Jacobs yang super kece itu.

Shopaholic. Source: static.filmannex.com

Jump ke pertanyaan di paragraf sebelumnya: kemudian sejauh mana kita bisa mengekspose barang - barang mahal/ branded yang kita punya?

Posting boleh tidak?
Boleh. Selama pada kadarnya. Berimbang.

Tips biar ngga dikira pamer terus:
1. Wajar jika kita ingin berbagi euphoria karena bahagia abis beli atau mendapatkan sesuatu yang istimewa, tapi boleh lo diseimbangkan dengan post lainnya yang inspiratif misalnya, tentang keluarga, tentang quote motivasi, tentang hal - hal lain dibantu caption yang menarik.

2. Perhatikan bahasa yang kamu gunakan untuk caption. Ya okelah, mungkin bebas toh medsos punya siapa kenapa repot mau posting aja. Cuma sebenarnya kadang kenyinyiran berawal dari bahasa (Ya kan? Ya kan??) Bahasa kita udah bener dan baek aja kadang bisa dinyinyirin orang (apalagi kalau kita memilih bahasa yang kurang tepat seperti bernada mendeskriditkan golongan tertentu, merasa terlalu bersyukur, merasa terlalu beruntung, dan lain sebagainya).

3. Buat berjaga - jaga, kurangi foto produk branded kamu dengan zoom in camera (biar kelihatan tapi hanya samar - samar, kan malah bikin penasaran). Soalnya kalau di blur, tar dikira gambar porno. #Ngakak

4. Selalu ingat bahwa kita semua hidup di dunia nyata. Ketagihan medsos dan kemauan tampil eksis dengan barang branded jika tidak pada kadarnya (profesional atau komersil) bisa - bisa membuat kamu hidup di dunia maya lebih lama. Jika kamu memang bekerja di bidang content writer, fashion blogger atau semacamnya yang bekerja secara profesional dengan hal - hal yang dekat dengan barang mahal, ini bisa jadi lain cerita.

Pendapat baik dan buruk memang akan selalu ada apalagi sekarang kita hidup di masa yang memang kuat banget dengan efek sosial media (hingga muncul istilah haters, silent reader, dan semacamnya). Tapi kembali ke tema "Seberapa penting gaya hidup branded?" Pastikan, kamu sendiri tidak "kesulitan" selama berusaha memenuhi kebutuhan akan barang mahal / branded ini. Jangan sampai, kebutuhan ini justru menggeser hal - hal yang lebih prioritas, lebih penting atau justru membuatmu addict hanya untuk mendapatkan pengakuan publik.


Love yourself!







January 5, 2017

STORY BEHIND RECOVERY: KILLING TIME

10 Aplikasi Anti Bosan Selama Bedrest

"It's a beautiful life. You learn, you win, you lose, but you get up. 
The longer I live, the more beautiful life becomes. "  - Nas



Hello everyone!
Sesi tulis-menulis di blog, 3 tahun terakhir track record total postingan ternyata turun parah. Tapi ngga papa! (Hibur diri). Beberapa waktu lalu punya banyak waktu untuk cerita dan menulis, hanya saja memang dalam kondisi kesehatan tidak optimal. Hampir satu bulan lamanya, aku harus bedrest di rumah dan tidak beraktifitas di kantor seperti biasa. Kabar baik? Bukan sama sekali. Libur paling menyenangkan justru saat kita berhasil liburan paska lelah bekerja berbulan-bulan, jadi bukan karena kamu nggak dalam kondisi kurang baik. Tapi ngga papa! (lagi). Selalu ada cerita yang menarik di balik bedrest panjang. Kali ini aku juga sekalian jawab pertanyaan beberapa teman soal aplikasi apa yang aku pakai di instagram, dan bagaimana cara aku edit video.

10 Aplikasi anti bosan yang aku gunakan selama bedrest panjang.

1.    Vsco (photo editor)
Hampir semua orang tahu apa itu Vsco. Tercatat lebih dari 10juta unduhan untuk aplikasi ini di Playstore. Nah, bagi yang suka fotografi (bukan melulu selfie), Vsco bisa jadi salah satu “alat” touch up hasil foto kita. Kalau aku bilang dari beberapa editing foto (like a pro, sometimes), Vsco cukup punya banyak fitur dan filter.

2.       Snapseed (Photo Editor)
Apps ini nggak kalah hebat juga dari Vsco, kalau aku bilang fitur editingnya (tune, selective, brush, dll) lebih banyak dari pada untuk pilihan filter.

3.       Afterlight (Photo editor)
Pada suatu hari salah satu teman terheran-heran sama aplikasi edit foto yang mana akan memungkinkan kita ganti warna rambut, memperpanjang bulu mata, blush on tambahan, dan seolah kayak pakai bedak. Di hatiku, “Wow luar biasa!” (Aku cukup salut sama pengembang aplikasi beauty/retouch seperti ini, pada intinya jangan terlalu bergantung pada konsep ubah wajah sih). Berhubung saya jarang memasang foto selfie di instagram atau media social lainnya, saya tidak menginstall aplikasi foto edit kecantikan. Afterlight di sini aku gunakan untuk penataan warna, filter yang dimiliki juga berbeda dari Vsco atau Snapseed meski memiliki tone yang hampir.

Before editing

After editing

4.       Facetune
Aplikasi ini tadinya hanya available di Iphone, tapi akhirnya bisa kita download di android, dengan BERBAYAR. Tapi entah kalau sekarang apakah sudah free atau masih berbayar. Dari berbagai review yang aku baca, Facetune termasuk salah satu aplikasi edit favorit instagramers penganut white theme atau  minimalist edit. Kenapa? Satu fitur andalan yang dimiliki Facetune adalah “Whiten”. Dia akan mencerahkan, dan memutihkan beberapa warna khusus yang akan memberikan hasil foto serba  white, white, white! Kenapa aku punya facetune juga? Simple sih. Karena aku juga sempat menjadi penganut aliran white theme. Wkkwkwkwkw
Aplikasi editi foto lainnya.

Empat Aplikasi di atas adalah adalah yang paling aku gunakan untuk blending warna di Instagram khususnya. Tapi karena aku suka belajar, dengan cara mengintsal dan mempelajari fiturnya, ada beberapa aplikasi photo editor yang masih saya gunakan untuk beberapa kasus khusus diantaranya Toolwiz Photos, Pics Art Cymera, dan Aviary.
"Mana yang paling sering aku gunakan? Aku menggunakan filter Vsco untuk memulai editing. Kemudian fitur lainnya aku sempurnakan di Snapseed. Finishing biasanya aku pakai afterlight."

5.       Viva Video Pro (video editor)
Ini adalah salah satu aplikasi edit video yang paling sering aku gunakan. Selain fitur dan efek yang simple, teknis mix videonya juga cukup beragam. Sebenarnya fitur yang ada dalam Viva Video Pro hampir sama seperti versi free-nya yang membedakan salah satunya adanya watermark pada versi free-nya. Seperti yang aku pernah tulis, apapun devicenya, aplikasinya, “ its depends on man behind the gun!” (Mau pakai handphone mahal apa murah, aplikasi gratis atau bayar, hasilnya tergantung sama SIAPA yang buat).

6.       Quik (video editor)
Aplikasi ini belum lama aku install tapi ini adalah salah satu aplikasi yang bisa jadi pilihan saat aku ngga punya banyak waktu melakukan editing di Viva Video (karena jujur, melakukan  editing video itu ngga sebentar, ngga gampang, pake feel :p).  Quik menyediakan smart cut untuk hi-light video pada gambar  yang kamu inginkan. Selain itu Quik juga sudah menyediakan pilihan transisi video, yang bisa kamu pilih sesuai keinginan. Contoh editing bisa klik di sini. Aplikasi ini bisa kamu dapatkan secara free di play store.

7.       Spotify & Joox (music player)
Dua aplikasi ini adalah perangkat utama untuk mendengarkan music. Keduanya sama-sama memiliki pilihan playlist dan koleksi lagu yang beragam. Bedanya, tidak semua akses lagu bisa kamu mainkan. Spotify memungkinkan kamu memainkan lagu secara random, sesuai playlist yang ada. Kamu perlu berlangganan dahulu untuk mendapatkan free akses maupun download lagu yang disukai.

Kalau aku prefer menggunakan Joox. Ada beberapa lagu yang bisa diputar tanpa menjadi VIP member, namun kamu bisa mendapatkan akses VIP ke semua lagu dalam 1 hari hanya dengan membagikan / share lagu yang kamu dengarkan ke beberapa media social yang kamu miliki. Then, yay! Free access. Musik adalah satu mood booster utama pas lagi bedrest, khususnya sembari nyelesain novel “The Girl On The Train” karya Paula Hawkins (kejar-kejaran antara cepatan selesaikan novel, atau keburu filmnya tayang). Saat tulisan ini aku post, film “The Girl On The Train” sudah tayang di bioskop-bioskop kesayangan Anda (grup Cinemaxx Theatre, CGVBlitz).


8.       Smule (singing!)
Smule adalah aplikasi karaoke dan sangat cocok buat kamu yang punya hobi nyanyi. Nah, buat kamu member VIP kamu bisa akses ke semua lagu, invote teman untuk duet dan beberapa akses lainnya yang tidak bisa dimiliki non VIP member. Ini hiburan juga buatku, kenapa? Karena Smule membuatku sadar, bahwa tidak semua orang dengan suara jelek, menyadari bahwa suaranya jelek. Apalagi kadang aku juga bisa totally fals. *lol

9.       Live.me (broadcast app)
Pernah dengar Periscope atau Bigo live? Nah, ini mirip! Live,me adalah aplikasi broadcast langsung yang dibedakan kategori (music, food, beauty, dll). Berhubung masa bedrest cukup memakan waktu, aku install Live.me karena penasaran saja. Terus cari hiburan, sembari live sama adik ipar. Sekarang adik ipar malah lebih rajin broadcast dan levelnya mungkin udah jauh lebih tinggi. Sekarang aku udah balik ngantor, jadinya have no time enough for live.

"Andai bisa, berasa ingin reguler broadcast pada jadwal tertentu, Inget jaman bertahun-tahun jadi penyiar radio. Banyak ngomong. *lol"

10.   GO-JEK
Sadar atau tidak, selama bedrest, keinginan makan yang enak-enak meningkat significant dari hari biasanya. Aku belum boleh banyak beraktifitas, bergerak, dan lain sebagainya mengingat luka operasi masih belum kering betul. Go Food dari Go Jek adalah satu-satunya cara untuk bisa pesen makanan pas lagi selo ngga bisa ngapa-ngapain. Ada adik iparku, Ima, yang siap sedia nemenin, tapi apalah daya kita semua hobi makan, dan gampang ngemil jadinya banyak jajan. Terima kasih untuk semua mamang Go-Jek.

That’s all!

10 aplikasi anti boring yang bisa aku review dari kacamata user. Sebenarnya kalau bicara aplikasi, ada beberapa yang lain tapi yang paling sering aku gunakan adalah 10 di atas. Pernah suatu hari, HP teman baru, terus nyamperin, pinjem HPku. “Buat apa?” tanyaku
“Mau liat aplikasinya, kamu pakai apa aja!” jawabnya. Mungkin karena beberapa waktu terakhir aku cukup aktif di instagram untuk post berbagai cerita perjalanan (dengan thematic pallete colour), dan short video.

Anyway, soal tutorial, photo editing, video editing yang aku gunakan selama ini, aku harap bisa aku share suatu hari nanti. Soalnya menjelaskan tutorial menggunakan bahasa tulis agak susah sih ya, next semoga semakin meningkat kemampuan “post production” video nya, jadi aku bisa berbagi melalui video tutorial yang lebih bisa dipahami.

Ada satu pertanyaan soal postingan instagram:
“Repot-repot amat sih, foto tinggal posting kan gampang. Toh foto-foto kita, akun-akun kita. Mau posting foto apa aja bebas.”

Kata-kata diatas bukan sarkatis. Diucapkan dengan nada biasa saja, tidak mencibir, separuh bercanda dan ketawa. Jadi aku nggak merasa tersakiti atau marah. Pada intinya adalah benar, kita bisa posting apapun, toh akun-akun IG kita juga ya kan. Ngga ada yang salah memang. Hanya saja, setiap orang memang bakal punya karakter yang beda-beda membawa “personal branding” dia dengan hal-hal yang dia posting di instagram (atau mungkin media social lainnya). Aku mengalami perubahan pallete warna beberapa kali, basicly aku suka kekuatan warna hijau, dark, coklat, difinishing dengan teknik “fade”, lil bit blury kalau dilihat. Kemudian  aku beranjak ke warna minimalis, tematik putih, dan kali ini mencoba konsisten untuk penggunaan warna hangat (warm colour, dengan pallete warna coklat, peach, dan turunan warna serupa).


My Instagram - Brown theme 

Nggak gampang? Iyalah.
Tapi kalau kita ngga press kemampuan kita dalam satu bidang tertentu, kapan belajarnya? Mau jadi gitu –gitu aja? Padahal sebenarnya hanya perlu niat. Dan jangan bawa emosi pribadi. Loh kok? Emosi pribadi? Saat kamu dalam kondisi campur emosi (senang banget, marah, jengkel, girang, iri, dengki, sombong, dan semua jenis emosi yang ada dalam diri manusia) kecendereungan post IG kamu akan mengarah ke “pesan pribadi”. Ini nggak sehat. Mereka yang marah, maka akan menyebarkan kemarahan pada caption mereka, mereka yang terlalu senang dan kegirangan, akan over happy dan bisa salah dia membandingkan dia dan orang lain.

Jadi, be happy!
Teruslah berkreasi, membuka wacana dan pengetahuan dengan cara mempelajarinya. Kemudian, membuatkan berharga dengan menyebarkannya kepada orang lain agar lebih bermanfaat.
Have a nice day!

November 18, 2015

BELAJAR DARI HATERS DAN BIEBER

KILL THEM WITH KINDNESS


“There’s gonna be times in your life when people say you can’t do something. And there’s gonna be times in your life when people say that you can’t live your dreams. This is what I tell them: Never say never!” – Justin Bieber 
 

Entah kapan muncul istilahnya tapi sekarang ini istilah “haters” bukan hal langka lagi. Haters berasal dari kata “Hate” yang berarti benci. Haters memiliki makna para pembenci dan mereka bisa dari kalangan personal ataupun kelompok. Masih sulit bagaiamana saya bisa mengkategorikan apa motif haters bisa sangat membenci dan menyalahkan seseorang atau pihak obyek lainnya. Umumnya, para haters menyerang karakter personal, menyalahkan semua hal yang dilakukan obyek, dan menganggap apapun yang berkaitan dengan obyek adalah hal yang patut jadi bahan  pergunjingan.  Biasanya memang public figure adalah sasaran empuk para haters, anehnya lagi semakin seorang haters tau dia ini haters, maka semakin kuatlah kemampuan mereka “mem-bully” obyek.  Banyak public  figure dari kalangan artis, penyanyi, atau sejenisnya memutuskan untuk menutup akun media sosial mereka salah satunya karena tingkah para haters yang tiada henti melakukan agresi di dunia maya. Tapi anehnya mereka hanya terus menjadi followers kita, seolah tidak bisa berhenti ingin tahu kabar kita setiap hari.

“Semakin tinggi pohon tumbuh, maka semakin kencang angin berhembus.”
Semakin tinggi kamu nampak dimata publik, maka salah satu efeknya kamu punya haters. Sebenarnya bisa dibilang segi positifnya punya haters adalah kita bisa mengukur sejauh mana mental beton yang ada dalam diri (tertawa). Atau paling tidak, bagi beberapa orang ulah para haters justru menghibur. Apa yang meraka lakukan, katakan, gunjingkan, bisa jadi hiburan dikala waktu senggang sembari minum kopi atau ngemil biskuit.
 
Saya tidak beken! Tapi, saya bersyukur punya haters. Kenapa? Karena dua poin di atas bisa saya praktikan hampir setiap saat (termasuk soal kopi dan biskuit – tersenyum – hampir tertawa).  Beberapa karakter haters yang ada di sekitar saya: 
  • Twit-War.  Dimulai tahun 2013, saya membaca twit-war pertama saya.  Awalnya aneh, kok bisa, tapi lama – lama sampai detik ini justru sesekali jadi hiburan ringan. Paling tidak dalam hal ini, kita semakin tahu banyaknya karakter orang di luar sana dengan berbagai gaya bicara dan cara mengeksekusi kata-kata. Saya ingin satu kutipan  Mrs. Munro dalam film Holmes bahwa “Jangan pernah ucapkan semua kata-kata yang ada di kepalamu”. 
  • BBM-War.Ini yang paling seru. Tapi sulit untuk diungkapkan, kenapa? Karena kadang haters bukan saja dari orang yang tidak kenal kalian, tapi orang yang mungkin ada di daftar contact BBM, dan media sosial lainnya. 
  •  Instagram. Serangan utama. Tapi tidak terlalu mendominasi. 


BELAJAR DARI BIEBER.

Kenapa tiba-tiba saya bicara tentang Bieber?
Saya bukan fans atau fanatic terhadap artis tertentu. Secara kebetulan,  beberapa waktu lalu saya membaca artikel tentang peraihan 5 penghargaan sekaligus, setelah Bieber vakum beberapa lama.  Dalam ajang MTV Europe Music Awards (EMA) 2015. MTV EMA tahun ini diselenggarakan di Milan, Italia, dia meraih penghargaan Best Male, Biggest Fan, Best Look, Best Collaboration, dan Best North America Act.

Siapa Bieber sebelum terkenal?
Bieber memiliki bakat memainkan berbagai jenis alat musik seperti piano, drum, gitar dan terompet.  Kepiawaiannya bernyanyi mulai nampak ketika dia berhasil meraih juara kedua dalam sebuah lomba nyanyi di kota kelahirannya, Stratford, Kanada. Saat itu, Justin memukau para juri dengan kemampuannya membawakan single Ne-Yo, "So Sick”. Nasib baik mulai mendekati Justin ketika Scooter Braun, mantan marketing eksekutif di label rekaman milik Jermaine Dupri, So So Def Records, secara tak sengaja melihat salah satu video penampilan Justin yang diunggah oleh sang ibu di Youtube. Terpesona dengan penampilan Justin, Scooter kemudian melacak keberadaan Justin dan berhasil menghubungi Pattie. Scooter lantas meminta ijin pada Pattie agar Justin bisa terbang ke Atlanta, Georgia, untuk merekam beberapa demo lagu. Meski sempat ragu, Pattie akhirnya mengijinkan Justin pergi menemui Scooter.  Sesampainya di Atlanta, Scooter kemudian memperkenalkan Justin pada Usher. Usher pun tertarik dan bersedia menjalin kerjasama dengan Scooter lewat perusahaan Raymond Braun Media Group (RBMG) untuk mengembangkan bakat Justin. 

Bagi beberapa orang (bukan beberapa, mungkin lebih dari ribuan orang) akan melihat bahwa Justin, hanya bernasib baik. Oke, bagaimana jika nasib baik datang saat dia tidak bisa bernyanyi, tidak bisa menari dan tidak bisa memainkan berbagai alat music? Apakah akan disebut nasib baik?

Kualitas diri adalah utama. Usaha jadi No. 1. Nasib baik, anggaplah bonus.
Kapan kamu akan meraih semua rencana yang sudah ditata rapi, tergantung seberapa besar effort yang kamu lakukan. Mental yang  dimiliki banyak orang berbeda-beda, dan ini pasti berpengaruh pada result.

“I’m telling you, people. Everyday we wake up is another blessing. Follow your dreams and don’t let anyone stop you.” - Justin Bieber

Bieber dan haters.
Jutaan orang yang tanpa dasar atau justru telah meriset dari berbagai video live JB, akan menggunjing bagaimana seorang Justin kurang bisa bernyanyi, hobi lupa lirik, atau hanya mengandalkan tarian daripada kualitas suara (ini bukan kata saya, bukan menurut saya, tapi saya baca berbagai sumber). Kemudian pada album terbarunya “PURPOSE” yang berisi 13 lagu, dia membuktikan bahwa kevakumannya beberapa waktu berbuah hasil.   Dan pada satu penampilan live nya pada acara Ellen Show, Justin berhasil mengantongi banyak komen positif tentang peningkatan kualitas suaranya saat penampilan langsung. Menurutmu ini tanpa usaha?

“To all the haters out there I wish u the best. U cant bring me down. I wake up everyday grateful 4 the opportunity and grateful to the fans.” - Justin Bieber


Haters gonna hate! So, hadapi dengan sangat bijak. Atau tidak perlu dihadapai sama sekali.  Kita tidak perlu jutaan orang mengenal kita atau membenci kita, hanya perlu orang-prang sekitar yang benar – benar tahu betul tentang kita dan bisa menjadi tempat untuk “pulang”.

Para pembenci hanya akan semakin gusar melihat kesuksesanmu, semakin menyudutkanmu melihat caramu tertawa atau bahkan berhasil meraih sesuatu, mungkin apapun yang kau ucapkan hanya akan menjadi tong kosong bagi mereka. Lantas, kita bisa apa? Kill them with kindness.

“I know my friends, family and fans know the person I am. Hearing adults spread lies and rumors is part of their job I guess. But all I have to say is… kill them with kindness.” - Bieber




Source artikel: 
Kidnesia, wowkeren, justinbieberzone. 


September 7, 2015

SPEAK

 KENAPA SAYA TAKUT BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG BARU?
"Think twice before you speak, because your words and influence will plant the seed of either success or failure in the mind of another." - Napoleon Hill


Saya jarang menulis tentang hal-hal yang bagi kebanyakan orang hanya teoritis semata - seperti motivator atau mungkin bentuk defensif terhadap kegagalan diri sendiri atau segala hal akan dianggap mengajari. Tapi satu pertanyaan dari rekan kerja menggelitik rasa untuk berbagi pengalaman tentang "rasanya takut berbicara dengan orang baru".
Berbicara itu apakah harus  spontan?
Jika dilakukan spontan, apakah tidak mengkhawatirkan jika kita tidak menguasai materi?
Saat kita sadar lawan bicara kita  merasa tidak seimbang, kita mulai gugup dan justru tidak membuat nyaman satu sama lain. Kenapa bisa sesulit itu?

Lantas tips untuk menghadapi diri sendiri saat kamu sudah mulai banyak pertanyaan dan pertimbangan adalah bertanya:
"Why you waiting so long?"

Pikirkan beberapa hal positif seperti: 
1. Sepenting apa lawan bicara kita?
(bukan tentang jabatan atau tingkat pekerjaan, tapi sejauh mana informasi yang bisa kita peroleh ataupun hubungan yang lebih ke arah profesional.
Contoh kasus:  Traveling pertama saya ke Bogor bisa dibilang tidak tahu lokasi dan juga alamat. Saya membutuhkan rekomendasi hotel dengan harga terjangkau yang benar-benar terjangkau bukan karena kita menggunakan kartu kredit, transaksi online maupun menggunakan voucher hotel. Karena saya pernah 1 tahun lebih bekerja di hotel, tahu betul ada harga khusus pengunjung "walk in" langsung datang ke lokasi, dan terkadang harganya cukup terpaut dari harga online.

Diantara pembaca artikel ini akan nyeletuk: "Googling aja mba! Atau google map!"
Ya, bisa. Memang saat ini banyak aplikasi yang memungkinkan kita menemukan alamat seperti Waze, Foursquare, bahkan google Map sendiri sudah dapat memberikan perintah arah dalam layanannya. Namun, saat itu perangkan yang saya miliki belum support besar untuk melakukan itu. Hal yang terpenting saat saya berada di kota baru yang asing bagi saya adalah "berbaur". Akhirnya justru yang membantu saya menemukan hotel dengan harga cukup terjangkau adalah pedagang gorengan dan jajanan di sekitar Tugu Kujang - Bogor. Ada lebih dari satu jam kami berbincang, tentang jajanan yang dia jual. Namanya, rasanya, bahkan berujung mencoba makanan itu dengan gratis.

Tips berbincang dengan masyarakat lokal:
  •  Jangan merasa pintar.
  • "Berbaur" dalam bahasa, cara tutur, bahasa tubuh, keramahan, dan senyumlah. Saat kita berada di kota atau negara yang menggunakan bahasa berbeda, bukan berarti kita harus bisa menguasai bahasanya. Tapi, intinya "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung".
  •  Jangan egois. Dimulainya sebuah pembicaraan adalah kebutuhan dari dua belah pihak entah berapapun perbandingan kebutuhannya. Kita bisa saja langsung bertanya sesuai apa yang kita butuhkan, mengucapkan terima kasih kemudian berlalu. Ya, seperti itu, dan ceritamu hanya berakhir sesingkat itu.
  • Puji atas bantuan atau yang berkaitan dengan apa yang mereka hasilkan. Contoh: "Terima kasih pak bantuannya. Ngomong-ngomong, pisang goreng buatan Bapak ini mirip buatan mama saya. Enak sekali," Kamu pasti bisa membayangkan betapa kata-kata pujian sangat mampu meluluhkan hati siapapun.

2. Seberapa besar pengaruh orang itu pada kehidupan kita nantinya?
Jangan pernah berpikir kita tidak membuka omongan pertama kali dengan asumsi bahwa: "Toh kita juga nggak akan ketemu mereka lagi!" atau istilah-istilah semacamnya. Orang baru, dari kalangan apapun akan memberikan efek positif bagi kita, sekecil apapun itu. Bahkan jika efek posiifnya menjadi besar dan sangat berpengaruh pada hidup kita anggap saja itu bonus. Karena efeknya terkadang tidak datang dalam hitungan hari atau bulan, bisa saja 2 atau 3 tahun kedepan.

3. Seberapa mampu kita bermanfaat bagi orang lain.
Berbicara dengan orang baru, bisa jadi memberikan efek langsung meski bukan untuk kita tapi lawan bicara. Akan banyak hal, cerita, informasi ataupun koneksi-koneksi yang akan semaki terangkai saat pembicaraan kedua belah pihak terjadi. Tanpa kamu sadari, mungkin saja cerita dan informasi yang kamu berikan padanya sangat membantu.

Memulai pembicaraan dengan orang baru bukan sesuatu yang salah, selama kamu tahu dengan siapa kamu akan bicara. Meskipun memulai pembicaraan itu halal hukumnya, tapi tetap baca calon lawan bicara kita, apakah dia capable atau justru akan memberikan efek negatif pada kita. Paling tidak jika conversation seperti ini bisa kamu praktekan dalam 1 tahun saja, akumulasikan berapa hal bermanfaat apa yang sudah kamu dapatkan, seberapa banyak link baru yang sudah kamu punya, sudah seberapa berkembang kemampuanmu berbicaramu dan telah berapa kali banyaknya kamu bermanfaat bagi orang lain?

Akumulasikan berapa hal bermanfaat apa yang sudah kamu dapatkan, seberapa banyak link baru yang sudah kamu punya, sudah seberapa berkembang kemampuanmu berbicaramu dan telah berapa kali banyaknya kamu bermanfaat bagi orang lain? Hanya dalam satu tahun menjadi berani."

June 29, 2015

DEMENTIA

"I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand." - Confucius

"Aku mau pulang," kataku. Menutup  pembicaraan dini hari waktu itu, di sela acara pesta kelas atas, yang tidak pernah dilewatkan ekspatriat kota ini.

"This is kind of international's way to love each other honey, just stay for a while," Aria mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telingaku. Suaranya tidak terlalu jelas, tapi aku tau betul apa yang dia katakan. Aku melihat sekeliling, minuman, bau asap rokok, dan pasti puluhan wanita dengan berbagai gaya busana, siap mendeklarasikan dirinya, "Yes now I'm available! Come and Come."

Aku melihat Aria berbaur di antara mereka, meraih satu demi satu sloki Martell Cordon Bleu kemudin bergabung, tertawa, mencium, dan berbincang dengan wanita-wanita yang aku yakin baru saja ia temui malam ini. Seperti biasa, seperti ini, hingga pagi menjelang, dan kemudian dia tumbang - kelelahan. Tidak ada gunanya aku puluhan kali mengatakan 'aku mau pulang' karena dia pasti tidak akan mau beranjak. Semakin banyak aku meminta maka dia akan semakin sering berkata: "Pokoknya, kita pulang bareng. Aku anterin kamu pulang." Selalu seperti itu dan kemudian selalu berakhir sebaliknya, aku menyetir mobil di pagi buta, mengantarnya pulang, masih syukur kalau dia tidak minta mampir makan atau memuntahkan makan malamnya karena efek minuman.

"I know, better to leave you. It's not a choice, but a decision," aku berbisik di telinga Aria, pria yang sudah puluhan tahun aku kenal, teman terbaik, tetangga terdekat, teman kecil paling tanpa tanda jasa, dan dia yang aku selalu sebut "my second king" setelah ayahku. Belum genap pukul tujuh pagi, after all that mess, aku memutuskan pergi dari bagian hidup Aria.

Aku menutup pintu rumahnya, tidak lagi menjadi orang pertama yang dia panggil atau lihat setiap pagi. "It's not a choice, but a decision. And I have to."
Berlalu dan tidak kembali lagi.

"We're friend. Good partner. But, it has a finish line, when everything become a mistakes" 

Source

April 17, 2015

#THROWBACK

Bagaimana Saya Bisa Menolak Ini?
-Kilas Balik-




"Rencana hanya akan tetap menjadi rencana, tanpa usaha.
Impian hanya akan menjadi impian, tanpa tenaga.
Harapan hanya akan terus menjadi harapan, tanpa dedikasi" 



Pendapat dan tekanan orang lain pernah menguras daya pikir saya.

Bagaimana perasaanmu saat kekurangan, dijadikan sebagai bahasan yang tak kunjung usai setiap orang-orang di sekelilingmu? Tidak sedikit orang yang menggunakan kata-kata motivasi, quote, mereka post di media sosial, seolah agar seluruh dunia tahu apa yang dia pikirkan - harapkan - katakan tentang orang lain. Kemudian orang yang lain, yang akan membaca post quote dari orang pertama hanya akan terkekeh, tersenyum miris, kemudian ada yang tak sngkan membalas dengan "quote balasan" yang menunjukan si penulis quote pertama seperti tidak berkaca dengan apa yang sudah mereka tulis.  Mungkin karena memang karena semakin bebasnya seseorang bisa berbagi apapun melalui media sosial, maka informasi dan isi hati akan mudah terbaca oleh orang lain. Kemudian, (hanya) dari kacamata saya muncul dua karakter orang yang suka post quote, motivasi, kata mutiara, ataupun sejenisnya: 1. Mereka yang secara tersirat berharap setiap kata menjadi bukti tentang pencapaiannya. 2. Mereka yang secara tidak sadar mengakui bahwa setiap kata yang tertulis adalah harapannya yang belum ia raih.

Lakukan sesuatu hal yang berguna, berdaya saing, bernilai beda. Jangan biarkan orang lain meremehkanmu.

Move on! Kenapa semua orang bilang gampang (padahal tindakan mereka membantah itu)

Move on. Bukan hanya tentang hubungan pribadi, pekerjaan, persahabatan, atau apapun jenis jalinan yang kita buat selama hidup di dunia. Hal yang bagi banyak orang sederhana (diucapkan) sebagai bentuk defensif, kata-kata penguat "bahwa aku baik-baik saja". Namun saat sedikit celah kelemahan muncul, tanpa sadar kekuatan "penyembuhan diri" luntur begitu saja. Terbawa perasaan. Kenangan masa lampau. Kemudian, semakin melemah.

Kamu, pernahkah merindukan dirimu yang dulu?
Pernah. Tapi saya akan tetap merindukan menjadi orang baru, dengan segala rencana, impian dan harapan baru di depan nanti.
Because, time can't go back!



February 11, 2015

Saya Masih Saya yang Dulu

SAYA MASIH SAYA YANG DULU

"kawan baru akan melihat siapa saya. kawan lama menerima saya apa adanya. Kawan baik tidak peduli siapa dan bagaimana saya, mereka tidak akan pernah kemana-mana".



Tulisan ini dibuat berlatarlatar belakang dari semua pertanyaan orang-orang terbaik, terdekat, dan yang terbiasa denganku. Yang mengenalku atau bahkan yang hanya tau namaku.

Dia Sombong.
Tidak pernah sedikitpun di pikiranku akan menjadi jenis manusia seperti ini. Bagi yang berpendapat itu mungkin hanya menilaiku dari "kulitnya" saja. Jika bertemu, berpapasan, dimanapun, sapalah. jangan pernah sungkan menyapa atau melihat ke arahku. Terkadang tidak selalu aku berdiri atau berjalan dalam kondisi memperhatikan setiap orang yang aku lalui.

Dia mementingkan diri sendiri.
Kadang iya. Benar. Dan mungkin itu tidak hanya terjadi padaku saja. Tapi kadarnya tidak pernah berlebihan. Sempat berlebihan, hanya pada masa transisi dimana aku mulai membandingkan bagaimana rasanya hidup demi banyak orang- kepentingan banyak orang, namun tidak mengalami perlakuan yang sama saat kesulitan yang datang menghampiriku. Semua terjadi karena sebuah alasan, bukan?

Dia tidak punya waktu lagi buat kita.

Siapa bilang?
Aku hanya tidak suka mendadak. Mendadak itu membuat kita harus mengolah lagi jadwal demi jadwal yang sudah dirangkai bahkan pada jauh-jauh hari sebelumnya. Meski begitu, saya masih kompromi tentang "dadakan" lainnya tapi tetap melihat faktor prioritas.

Dia suka seenaknya bicara.
Seenaknya bicara versi Ayu bukan menggebu-gebu menyampaikan isi hati, menghakimi tanpa ampun, atau mengucapkan kata-kata kasar. bagi mereka yang berpendapat itu mungkin adalah mereka yang justru mendapat perhatian lebih banyak dariku. karena pada dasarnya aku tidak suka mengomentari kehidupan ataupun perbuatan orang lain, tapi jika sampai aku komentar, menasehati, atau mengeluhkan perbuatannya, itu tandanya aku memperhatikan mereka.

Dia sudah beda "kelas".
Tidak pernah! Aku masih sama seperti dulu. Dalam hal ini, hanya sedikit kesimpulan yang bisa aku utarakan:
"kawan baru akan melihat siapa saya. kawan lama menerima saya apa adanya. Kawan baik tidak peduli siapa dan bagaimana saya, mereka tidak akan pernah kemana-mana".

Dia tidak mau berbaur lagi.

Bohong! Itu adalah kebohongan paling konyol yang pernah aku dengar. Kebanyakan dari mereka akan membanding-bandingkan saya dan kehidupan mereka. Akan melihat saya pada satu sisi, kebetulan, keberhasilan, link yang kuat, dan faktor mujur. Itu salah! Sungguh kesalahan. Aku meraih ini sungguh berjuang dari bawah. Merangkainya dalam hampir 10 tahun, dimulai dari merasakan fee yang tidak genap 50.000 rupiah. Merangkai mimpi demi mimpi dan menjadikannya sebuah pembelajaran yang membuatku ada di titik ini. Proses ini tidak instan.

Dan saya, masih saya yang dulu.
Copyright © 2014 FILOSOFAST

Distributed By Blogger Templates | Designed By Darmowe dodatki na blogi